Perjalanan Darat dari Singapore ke Phuket (Bag 1)

Kali ini saya mau sharing pengalaman jalan-jalan menyusuri Singapore – Phuket via darat tahun lalu. Berhubung jalan-jalan ke negara tetangga udah ga asing buat wisatawan Indonesia, saya ga akan bahas banyak soal tempat wisatanya, tapi lebih ke perjalanannya aja. Sebenernya dengan banyaknya promo tiket pesawat, biaya trip via udara bisa jadi ga jauh lebih mahal (kalau hoki :P), tapi menurut saya perjalanan via darat tetap memberi warna yang berbeda. Apalagi kalau mau pindah-pindah antar kota yang jaraknya ga begitu jauh, jalur darat malah lebih praktis karena ga perlu urusan bolak-balik bandara.

Itinerary

Jelas sekali sebagai penggemar pantai tujuan utama kami ke Thailand. Singapore dan Malaysia agak-agak numpang lewat aja :)) Trip kami rutenya Bandung – Singapore – Penang – Krabi – Phuket – Jakarta. Waktu pergi sih belum ada bayangan mau ngapain aja selain island hopping di Thailand dan nonton ladyboy 😀

  • Hari 1-2: Singapore
  • Hari 3: Penang
  • Hari 4-6: Krabi
  • Hari 7-8: Phuket
Dari Singapore ke Phuket

Dari Singapore ke Phuket

Dari jalurnya sih sebenarnya bisa singgah dulu di Malacca dan Kuala Lumpur… tapi dengan waktu yang cuma 8 hari, kami lebih prioritaskan main air di Thailand. Hehe…

Transportasi

Ada beberapa pilihan transportasi untuk pergi lintas batas Singapore – Malaysia – Thailand, seperti kereta api, bus, dan minivan. Kereta api lumayan murah dan populer, tapi bagi kami ini kurang efisien dari segi waktu karena mesti stop semalam dulu di Kuala Lumpur. Dari Penang ke Krabi pun kurang efisien karena kereta cuma ada sampai Hat Yai dan selanjutnya mesti naik bus.

Pilihan kami jatuh pada bus untuk perjalanan Singapore – Penang, dilanjut minivan untuk perjalanan Penang – Krabi dan Krabi – Phuket. Moda transportasi ini harganya memang lebih mahal sedikit dari kereta, tapi perjalanannya direct jadi lebih hemat waktu. Bus dari Singapore ke Penang bisa dibooking online di Easybook, dicari aja yang sesuai jadwal. Kalau minivan dari Penang dan Krabi cari di tempat aja, biasanya bisa pesan di hotel/penginapan atau travel agent di sekitarnya.

Hari 1-2: Singapore

Singapore mungkin salah satu negara yang paling gampang dipakai melancong orang Indonesia. Jaraknya dekat banget juga, kurang berasa ke luar negeri. Keliling-keliling juga bisa pakai MRT yang sistemnya cukup mudah dipahami bahkan buat yang baru pertama kali coba.

Sebenarnya Singapore sebagai tujuan wisata itu not our cup of tea, secara beton dan man-made attraction di mana-mana sih ya hehehe… Tapi kadang tiket Bandung-Singapore itu murah banget, dan chicken rice di sana itu enak banget… jadi yeaa, kenapa tidak? Haha. Selama jalan-jalan di sana, kami pergi ke tempat turis standar macam Merlion, Orchard road, Double Helix bridge, Garden by the Bay, etc.

Suasana penginapan kami di Bunc@Radius Hostel Little India

Suasana penginapan kami di Bunc@Radius Hostel Little India

Pastinya ga belanja :P

Di Orchard, pastinya ga belanja 😛

Background Marina Bay dan Double Helix Bridge

Background Marina Bay dan Double Helix Bridge

Di akhir hari ke-2, kami akan pergi naik bus malam ke Penang. Bus ini berangkat dari Golden Mile Complex. Ke sana sorenya naik MRT, turun di Nicoll Highway Exit A. Di kejauhan kelihatan gedung bertuliskan Golden Mile. Begitu sampai tempatnya, kami kaget kok sepiii banget. Bangunannya seperti pusat pertokoan tua macam Palaguna kalau di Bandung. Cuma ada beberapa toko yang buka, dan ada toko yang bagian depannya tertutup dengan foto-foto para perempuan seksi beserta nomornya xD So shady hahaha. Ngintip ke lantai bawah, ada beberapa orang tua main mahjong. Karena suasananya agak aneh, kami keluar bangunan aja. Pas liat-liat lagi… ealaaah ternyata ini Golden Mile Tower. Golden Mile Complex itu di sebelahnya! 😀

Di Golden Mile Complex, akhirnya kami nemu juga counter busnya. Kami naik bus Sri Maju yang dari hasil browsing sih reputasinya cukup bagus. Bus berangkat jam 9 malam dan akan sampai di Penang sekira jam 6 pagi. Harga tiketnya ga murah-murah amat, 40 SGD (sebaliknya tiket dari Malaysia ke Singapore biasanya lebih murah), tapi busnya nyaman buat tidur dan lumayan bisa menghemat ongkos menginap 1 malam. Seat di busnya memang dirancang untuk orang tidur jadi lumayan lapang, ada sandaran kaki, dan kursinya bisa disandar jauh ke belakang. Ada selimut juga untuk setiap penumpang.

Ga begitu lama setelah bus berangkat, kami sampai di perbatasan Singapore dan Malaysia. Di imigrasi masuk Malaysia, saya sedikit was-was juga… karena lewat darat dan ga ada bookingan tiket keluar Malaysia, gimana kalau dicurigai TKW selundupan? Hehe… Ternyata pikiran itu berlebihan, karena petugas yang melayani saya ramah sekali dan langsung kasih stempel tanpa tanya-tanya.

Hari 3: Penang

Setelah urusan imigrasi selesai, waktunya melanjutkan perjalanan. Awalnya saya pikir jalanan ke Penang bakal berkelok-kelok seperti di banyak daerah di Indonesia. Ternyata perjalanannya lewat jalan tol yang bahkan lebih lurus daripada jalan tol Bandung-Jakarta :)) Katanya bus ini akan berhenti di beberapa tempat menuju Penang. Karena kami akan menginap di Georgetown, rencananya pagi-pagi turun di Butterworth untuk naik ferry ke Georgetown. Seperti yang dibilang, busnya nyaman untuk tidur. Malah sangat nyaman sampai paginya waktu saya buka mata, langit sudah cukup terang dan bus sedang melewati jembatan menuju Pulau Pinang. Saya cukup terkesan juga melihat skyline perkotaan di Pulau Pinang dari kejauhan, sampai saya tersadar… Kalau ini di jembatan menuju pulau, berarti Butterworth udah kelewatan dong? Jreng jreng… xD

Langsung bangunin si suami dan kasih tau situasinya. Doski sama cluelessnya haha… Kami pasrahkan aja ke mana pun bus ini membawa. Akhirnya bus berhenti di terminal Sungai Nibong. Setelah tanya-tanya orang sana gimana cara ke Georgetown, kami naik bus Rapid Penang no 301 dari luar terminal (kalau yang lewat ke dalam terminal bakal muter-muter dulu sebelum ke Georgetown). Penginapan kami adanya di jalan Muntri. Atas arahan bapak supir bus, kami turun di Komtar dengan biaya 2 MYR.

Dari Komtar kami jalan cukup jauh ke penginapan, berbekal map yang udah di-load di hape sebelum berangkat ke Penang. Kesan saya terhadap Georgetown, somehow seperti Braga yang lebih besar gitu. Ga nyangka juga banyak banget bule melancong ke situ. Penang terkenal dengan wisata kulinernya, jadi begitu keluar jalan-jalan udah pasti rencananya makan. Hehe… Kami coba nasi kandar yang lumayan terkenal. Agak mirip nasi Padang sebenarnya, cuma di sini ada pilihan nasi briyani dan rempahnya sedikit lebih berasa India.

Kedai Nasi Kandar Beratur (Line Clear)

Kedai Nasi Kandar

Di Georgetown ada banyak street art yang tersebar di sudut-sudut kota. Kalau niat bisa hunting sambil sepedaan keliling kota. Kami sih selow aja keliling jalan kaki sambil foto kalau ketemu street art di pinggir jalan.

Melewati sebuah kuil di Georgetown

Melewati sebuah kuil di Georgetown

Street art di Jalan Muntri

Street art di Jalan Muntri

Street art di Love Lane

Street art di Love Lane

Karena besoknya mau ke Krabi, kami pesan tiket minivan dari penginapan. Biayanya agak lupa hehe, tapi kalau ga salah 60 MYR. Di sekitar Georgetown banyak travel agent sebenarnya, kalau beli di sana mungkin bisa tawar-menawar dan jadi lebih murah. Tapi kami pilih beli dari penginapan aja karena harganya masih standar. Kisah perjalanan ke Krabi besoknya bersambung di Bag 2…

Advertisements

Rame-Rame ke Raja Ampat (Bag 3 – Tamat)

Postingan ini udah terpendam lama, tapi saya agak sedih lanjutinnya. Bukan kenapa-kenapa, ini karena ga ada foto bawah lautnya -_- Ya udahlah, coba dibayangkan dan diresapi aja ya. Kalau saya bilang bagus ya percaya ajaaa… Hehe…

Hari 3: Arborek, Sauwandarek, Yenbuba

Hari ke-3 ini kami snorkeling seharian di pulau-pulau sekitar. Tujuan pertama ke desa Arborek. Di sini bawah lautnya bagus, ada schooling fishnya. Kami snorkeling dan loncat-loncat dari dermaga aja.

Speed boat di dermaga Arborek

Speed boat di dermaga Arborek

Para peloncat indah :))

Para peloncat indah :))

Setelah makan siang di Arborek, kami lanjut snorkeling di Sauwandarek. Begitu nyampe sana, dari jauh keliatan awan menggulung hitam dan angin bertiup kencang banget. Naga-naganya akan segera badai -_- Bener lah ga lama kemudian hujan gede juga turun.

Badai di Sauwandarek

Badai di Sauwandarek

Setelah angin dan hujannya agak mendingan, nyeburlah kami semua. Ternyata di dalam air visibilitynya bagus. Di sini coralnya rapat-rapat, dan kami langsung disambut ikan bermata gede (ga tau apaan, warnanya kuning dan badannya agak pipih kayak anglefish tapi lumayan gede). Di bawah kaki jetty ada schooling jackfish buanyak bener… Setelah itu agak jauh dari dermaga ketemu penyu. Ikan-ikan yang seliweran deket sini ukurannya gede-gede loh, hampir segede Napoleon, bergerombol pula. Trus… pas liat ke bawah, keliatan di kedalaman sana ada 3 ekor hiu lewat. Huwooo… entah lagi beruntung atau apa, tapi ini dia spot snorkeling terbaik yang pernah saya sambangin 😀

Abis dari Sauwandarek, kami snorkeling di Yenbuba. Di sini bagus juga, tapi saya belum bisa move on dari kerennya Sauwandarek, jadi ga terlalu lama nyeburnya 😛

Rame-rame di dermaga Yenbuba

Rame-rame di dermaga Yenbuba

Hari 4: Raja Ampat Dive Lodge, Pasir Timbul, Waiwo Dive Resort

Pagi-pagi kami check out dari Kobe Oser homestay dan capcus untuk island hopping dan sedikit liat-liat resort. Tujuan pertama ke Raja Ampat Dive Lodge yang ada di pulau Mansuar. Di sini bisa snorkeling di depan dermaga resort, tapi kami semua keliling resort aja, kecuali satu teman kami yang tetep snorkeling. Biasanya saya juga semangat nyebur sih, tapi waktu itu entah kenapa agak males nyebur kalo ga sebagus Sauwandarek… beneran susah move on xD Walaupun ga nyebur, kami sempat liat ada honeycomb moray eel “bersarang” di perairan dangkal dekat pintu masuk resort.

Mejeng di depan Raja Ampat Dive Lodge

Mejeng di depan Raja Ampat Dive Lodge

Numpang duduk :P

Numpang duduk 😛

Dari resort kami lanjut ke daerah Kri. Di depan Mangkur Kodon homestay ada hamparan pasir kece buat leyeh-leyeh.

Pose wajib rombongan

Pose wajib rombongan

We are the champion my friend

We are the champion my friend

Setelah itu kami pergi ke pasir timbul alias gusung yang saya lupa nama daerahnya 😛 Kalau ga salah Pulau Koh. Di sini kerennya tuh, di depan gusung ada gusung lagi… jadi double gusung! Kami menghabiskan waktu paling lama di sini.

Crystal clear...

Crystal clear…

Merantau versi Raja Ampat

Merantau versi Raja Ampat

Tujuan selanjutnya ke Waiwo Dive Resort. Dari sini sebagian besar rombongan bakal langsung cabut ke Sorong dan beberapa extend stay di Waiwo buat diving. Saya termasuk yang extend diving.

Dermaga Waiwo Dive Resort

Dermaga Waiwo Dive Resort

Waiwo Dive Resort ini milik lokal dan termasuk resort paling murah di Raja Ampat. Rate-nya 600K per orang per malam. Sekitar resort masih kayak hutan, dan kami kebagian kamar yang lumayan baru tapi letaknya agak belakang. Waktu malam-malam keluar kamar menuju restoran sempat “dicegat” kepiting besar di tengah jalan. Sempat liat ular kecil juga xD Dan yang unyu malam-malam di pantai depan restoran banyak kepiting kecil keluar. Satu komplain saya buat resort ini yaitu pelayanannya agak lambat, karena entah kenapa staffnya sedikit sekali (in fact saya cuma ingat 2?? xD). Kayak one-man show gitu… yang jaga di resepsionis, yang ngurusin problem teknis di kamar, yang koordinasiin jadwal diving, yang ngambil dan nganter pesanan di restoran… semuanya dikerjain satu orang. Semoga sekarang udah nambah deh staffnya, dan orang tadi itu cepet jadi boss. Hehe…

Hari 5: Diving di Friwen Bonda dan Mioskon

Diving lewat Waiwo Dive Resort biayanya 600K per dive untuk yang licensed, termasuk alat lengkap. Karena ga ada booties ukuran kaki Cinderella saya, jadi saya pakenya fin kecil yang buat snorkeling. Saya udah pernah denger kalo di Raja Ampat ini spotnya rata-rata lumayan berarus. Makin berarus, makin bagus bawah lautnya. Jadi rada khawatir juga pake fin imut gitu, tapi mau gimana lagi. Kata dive guidenya, “Sudah, nanti kamu nempel sama saya!” Hehe…

Rencananya diving dari pagi, tapi karena kapalnya rusak baru bisa berangkat siang. Asalnya kami mau dibawa ke daerah Kri, tapi karena pake kapal darurat yang jalannya lambat, kami cuma bisa ke spot yang ga terlalu jauh. Jadi dibawalah kami ke Friwen Bonda. Di hari pertama kami sempat ke sini juga tapi cuma snorkeling. Kesan saya waktu turun di sini adalah… sepiii 😐 Iya coralnya bagus, bahkan ada suatu daerah yang cantik banget di mana bertebaran giant sea fan di mana-mana (sebenarnya bagus buat background foto narsis), tapi jarang ada schooling fish. Yang saya ingat di sini banyaknya makhluk kecil seperti macam-macam nudibranch dan pigmy seahorse. Berhubung mata saya jereng jadinya kurang menikmati diving seperti ini.

Istirahat di Mioskon

Karena ga ada poto underwater, pajang poto istirahat di Mioskon

Doggy pun leyeh-leyeh

Doggy pun leyeh-leyeh

Diving kedua di Mioskon beda banget sama di Friwen Bonda. Begitu turun di sini langsung disambut sama berbagai schooling fish. Gilee ini bener-bener kayak di video BBC atau Natgeo gitu… Coral-coral cantik + ikan-ikan berseliweran tanpa henti. Kayaknya ikan di sini ga biasa pergi-pergi sendirian. Mau ukurannya kecil atau lumayan gede, kebanyakan berenangnya pada bergerombol. Sempat liat suatu tempat yang bawahnya cuma pasir… eh ternyata di pasir tersebut juga ada belasan pari berkamuflase! Satu lagi yang spesial di sini, kami beberapa kali ketemu sama spesies endemik Raja Ampat yaitu hiu karpet aka wobbegong. Ternyata dari dekat mukanya lucu dan ukurannya lumayan besar.

Hari 6: Waisai – Sorong

Paginya sempat pengen ikutan rombongan diving yang pergi ke spot Manta, tapi waktunya ga keburu karena kami harus balik ke Sorong siangnya. Huhu.. gpp deh seenggaknya udah diving di Mioskon. Kapan-kapan pengen balik lagi deh bawa kamera underwater *biar eksis.

Kami balik ke Sorong naik kapal cepat. Harga tiket kapal ke Sorong kalau ga salah yang ekonomi 110K dan yang VIP 180K (sori udah lamaa hehe). Ruangan VIPnya biasa lah ada AC, tempat duduk mayan empuk, dan karaoke/DVD. Perjalanannya sekira 2 jam sampai ke pelabuhan di Sorong.

Bye Raja Ampat!

Bye Raja Ampat!

Di Sorong kami menginap semalam dulu sebelum ikut penerbangan pulang besok paginya. Sekian deh yang bisa saya tulis soal jalan-jalan pertama ke Raja Ampat ini. Selanjutnya kalau sempat (kalau niat sih sebenernya haha…) saya bakal tulis tentang jalan-jalan kedua kalinya ke Raja Ampat, yaitu ke daerah Misool di bagian selatan.

Safari Sehari di Pilanesberg

Kalau bayangin liburan di Afrika, yang pertama kepikiran adalah… safari! Di Afrika Selatan, tempat safari yang terkenal itu Kruger National Park. Biasanya orang ikutan safari minimal 4 hari, terus nginepnya di lodge tengah hutan atau camping. Berhubung kemarin saya ke Afsel dalam rangka kerjaan, waktu luangnya cuma ada pas weekend. Jadi cari-cari option safari yang bisa sehari aja. Ternyata ada taman nasional yang cukup dekat dengan Johannesburg, yaitu Pilanesberg National Park. Waktu tempuhnya sekira 2 jam dari Joburg, jadi kita bisa pergi pagi-pagi banget dan balik lagi sorenya.

Untuk ikutan safari, ada banyak operator yang menyediakan trip komplit dengan guide, makan, dan antar jemput dari bandara atau hotel. Masuk ke Pilanesberg National Park sendiri sebenarnya bisa dilakukan secara mandiri. Jadi kalau mau ngider-ngider sendiri, pake mobil sendiri, bisa aja. Tapi… di permit office-nya ada disclaimer kalau segala resiko seperti kecelakaan dan kematian tanggung sendiri. Heuheu… Yah ini berlaku juga buat semua, termasuk yang ikutan trip safari dengan operator. Tapi setidaknya kalau dengan operator kan ada guide yang udah berpengalaman buat meminimalisasi hal-hal yang tidak diinginkan. Yang penting di sini kita mesti bener-bener dengerin arahan dari guide, karena safari di alam liar tentu beda dengan di taman safari (sotoy, padahal belum pernah juga ke taman safari :P)

Safari sehari di Pilanesberg ini terbagi 2 sesi, pagi dan sore. Pagi-pagi safari dengan kendaraan tertutup, dan setelah makan siang, lanjut lagi dengan kendaraan terbuka. Ini beberapa hasil jepretan sesi pagi, tapi jangan harap kualitas majalah travel lah ya xD

Impala

Impala

Boar

Boar

Giraffe

Giraffe

Zebra

Zebra

Wildebeast

Wildebeast

More zebras

More zebras

Beberapa kali liat zebra dan impala bergerombol, tapi susah ya motonya karena mereka ga bisa disuruh diam (ya eyalah… hehe). Yang saya takjub liatnya itu, kalau di kebun binatang liat jerapah cuma satu atau dua, kandangnya sempit pula… di sini bisa liat kawanan jerapah main kejar-kejaran dengan bebas.

Kawanan jerapah berlarian

Kawanan jerapah berlarian

Siangnya kami lunch di salah satu resort yang letaknya sekitar pinggiran taman nasional, dan setelahnya lanjut sesi sore dengan kendaraan terbuka. Guide kami memberikan safety tips, di antaranya kalau lagi ada binatang seperti gajah dekat dengan kendaraan, jangan tiba-tiba berdiri dari tempat duduk karena itu bisa memprovokasinya.

Gajah di pelupuk mata tampak

Gajah di pelupuk mata tampak

Zebras anywhere

Zebras anywhere

Btw kemarin itu di sana rumputnya tinggi-tinggi, ga seperti image safari Afrika yang ada di tivi dengan padang yang agak gersang. Ternyata, paling bagusnya safari ini di musim dingin sekitar Mei-Juni, karena rumputnya pendek dan makanan susah, jadi binatang-binatangnya aktif dan gampang di-spot. Siang itu kebetulan panas banget, jadi binatangnya pada ngadem. Perlu beberapa waktu buat kami akhirnya ketemu rhino.

Rhino ngadem

Rhino ngadem, jaga jarak aman

Katanya binatang yang must-see pas safari itu ada 5, disebutnya Big 5: gajah, singa, leopard, buffalo, dan rhino. Kami cuma nemu 2 (gajah dan rhino), banyaknya zebra dan impala. Tapi lumayan juga sih untuk waktu sehari. Di jalan juga beberapa kali ketemu binatang lucu ini (lucu karena ga lagi gigit :P).

Cute Jackal

Cute Jackal

Pengalaman pertama safari ini menyenangkan juga. Jadi pengen lagi, yang lebih serius gitu minimal 4 hari… terus di tempat yang lebih liar lagi macam Serengeti… Hehe… (mulai ngayal, pecahin celengan ayam). Untuk sekarang sih, seenggaknya saya bisa bilang udah pernah safari di Afrika. Yea, meskipun cuma satu hari 😛