Thailand

Perjalanan Darat dari Singapore ke Phuket (Bag 3 – Tamat)

Hari 7-8: Phuket

Ngebahas Phuket sebenarnya agak antiklimaks karena kegiatan-kegiatan asiknya udah dilakukan di Krabi. Tapi ada yang bikin saya penasaran sama Phuket, yaitu kabaret ladyboy *teteup :))

Kami pergi dari Krabi pagi hari pakai minivan lagi, pesan dari hotel semalam sebelumnya. Di jalan, penumpang sempat dibawa mampir ke kantor agen tur, tapi kami sih ga beli paket apa-apa. Di sekitar penginapan di Patong nanti juga gampang cari agen tur. Banyak kegiatan yang ditawarkan, seperti Phi Phi island tour, elephant tour, kayaking di Phang Nga, dsb. Berhubung kami sudah snorkeling, kayaking, dan island hopping di Krabi, di Phuket mau santai aja keliling pake motor.

Suasana di penginapan Saibaidee Patong

Suasana di penginapan Saibaidee Patong, depannya agen tur semua 😀

Setelah siangnya sampai di Phuket dan check in penginapan, kami sewa motor di sebelah hotel (di Patong juga ga akan susah juga cari penyewaan). Untuk sewa motor, biayanya sendiri cukup murah, kalau dirupiahin sekitar 50K-100K, tapi kita bakal diminta titip paspor atau deposit sejumlah uang yang cukup banyak (waktu itu 2000 THB) yang nanti dikembalikan lagi kalau kita udah balikin motornya. Tentu kami pilih deposit uang aja. Kalau hilang paspor di negeri orang bisa berabe. Kalau hilang duit seapes-apesnya ya hilang duit aja heuheu… Jadi kalau mau sewa motor pastikan aja bawa duit agak lebihan.

Satu hal lagi yang saya baca-baca soal sewa motor di Phuket, katanya kadang ada tukang sewa yang nipu dengan cara ngambil motornya malam-malam waktu si penyewa ninggalin motor di parkiran hotel, terus besoknya dia minta ganti rugi untuk motornya yang “hilang” itu. Jadi supaya lebih aman malamnya kami kembaliin motor ke tempat sewa dan bilang besok kami ambil lagi (motor masih bisa dipakai sampai besok siangnya karena sewa per 24 jam). Bukannya berburuk sangka, tapi memang lebih baik waktu tidur motor dititipkan ke yang punyanya aja supaya lebih aman.

Patong Beach

Sorenya kami keliling sekitar pantai Patong, Bangla Road, dsb. Selain gedung arena kickboxing yang cukup unik, ga ada yang terlalu spesial sih. Ya mirip-mirip lah hecticnya sama Kuta dan Legian 😛

Duduk depan Patong Beach

Duduk depan Patong Beach

Simon Cabaret

Ada beberapa kabaret ladyboy di Phuket, dan tampaknya yang paling terkenal itu Simon Cabaret. Kami beli tiketnya di agen dekat penginapan, dapat kursi VIP. Malamnya kami dijemput dari penginapan untuk pergi ke tempat kabaret, sambil menjemput beberapa tamu lain yang tinggal di sekitar situ. Waktu liat tamu-tamu lain yang semuanya perempuan ini… buset dah pada pake gaun dan baju pesta semua, full make up pula. Pas nyampe gedung kabaretnya, ternyata kebanyakan perempuan memang pake baju pesta, sisanya pake summer dress lucu-lucu gitu. Jadi berasa saltum karena jarang yang pake jins belel, kaos oblong, dan jaket kayak saya. Buat ketemu ladyboy doang loh xD

Turis foto di depan gedung Simon Cabaret

Turis foto di depan gedung Simon Cabaret

Akhirnya mulailah acaranya, dan ternyata kami dapat jajaran kursi paling depan. Berbagai tarian ditampilkan dari yang seksi, lucu, atau anggun. Yang saya suka tariannya yang klasik Cina, ladyboy yang main di sini juga asli cantik :)) Kalau yang ala-ala Broadway ga gitu suka. Karena duduk di depan, memang cukup jelas jadinya mana yang cantik dan mana yang agak seram.

Satu hal yang tampaknya cukup menyeramkan bagi cowok-cowok, para ladyboy ini kadang ada yang turun ke deretan kursi penonton bagian depan untuk memeluk atau mencium pria yang beruntung. Karena kami duduk di paling depan, tiap ada adegan gini saya ikut deg-degan takut suami diapa-apain. Hahaha… Untungnya di dekat kami ada cowok muda ganteng yang tampaknya benar-benar menarik perhatian para ladyboy, sampai-sampai dia dua kali dicium ladyboy yang berbeda. Jadi amanlah si suami 😛

Karon dan Kata Beach

Besok paginya kami pergi ke Wat Chalong dengan motoran. Karena di penginapan ada wifi, kami bisa load map di HP dulu buat penunjuk jalan. Kebetulan jalannya melewati beberapa spot turis seperti pantai Karon dan Kata. Di sekitar sini kami liat-liat dan jajan aja sih ga sampai nyebur. Selain lautnya lagi serem (ombaknya sampai hampir tumpah ke jalan raya) memang ga bawa baju basah-basahan juga.

Lupa Karon apa Kata Beach

Lupa Karon apa Kata Beach

Wat Chalong dan Big Buddha

Pergi ke Wat Chalong cukup gampang karena ada papan penunjuk jalan. Ini adalah kompleks kuil yang cukup ramai dikunjungi turis dan juga orang-orang yang mau beribadah. Seperti biasa kalau ke kuil tentu pakai pakaian yang sopan ya (menutup bahu dan lutut). Tapi kalau khilaf pakai baju minim juga nanti dipinjemin sarung sih. Hehe…

Salah satu kuil di Wat Chalong

Salah satu kuil di Wat Chalong

Di dalam salah satu kuil

Di dalam salah satu kuil

Setelah Wat Chalong, kami ke tempat turis lain yaitu Big Buddha. Waktu itu tempat ini masih baru, kami juga taunya dari kenalan di penginapan. Dari Wat Chalong ke sini ternyata cukup gampang juga karena waktu itu sudah ada spanduk penunjuk jalan. Menuju tempat ini, kami sempat melihat kawasan hutan yang tampaknya dipakai untuk elephant dan ATV tour. Kalau ada waktu lebih lama kayaknya lumayan juga ikutan tour-tour itu. Di Big Buddha sendiri ada patung Buddha yang besar (cukup menjelaskan yah haha…) dan daerah wisatanya masih dalam tahap pengerjaan.

Patung Big Buddha, masih dalam pengerjaan

Patung Big Buddha, masih dalam pengerjaan

Phuket Airport

Setelah keliling berapa tempat di Phuket, kami sempat ke Jungceylon Mall untuk menunggu waktu pulang. Akhirnya waktu kami sudah hampir habis, dan kami pun segera ke bandara pakai transport dari penginapan. Di bandara, ternyata ada sedikit masalah di bagian imigrasi. Jadi ceritanya, waktu paspor diperiksa petugas, saya dan suami disuruh ke petugas lain untuk ditanya-tanya. Entah kenapa saya ga begitu kaget, soalnya waktu masuk ke Thailand, orang Indonesia memang agak-agak “dibedakan” dengan pemeriksaan ekstra. Saya pikir mungkin memang lagi ada orang Indonesia yang masuk daftar pencarian atau apa. Heu…

Sayangnya, para petugas bahasa Inggrisnya ga jelas, jadi kami bingung jawab dan mereka sibuk sendiri. Akhirnya kami inisiatif nerangin aja kalau kami dari Indonesia pakai pesawat ke Singapore, terus pergi lewat darat sampai Thailand, sambil kami tunjukin juga cap-cap imigrasinya.

Si petugas akhirnya agak-agak dapat pencerahan, “Oh, Songkhla? Songkhla?” Kami asalnya bingung tapi kemudian sadar kalau itu nama imigrasi masuk kami ke Thailand. Akhirnya si petugas ngecek lagi di komputernya dan dapatlah record kami di sana. Jadi setelah sesi wawancara yang cukup lama dan membingungkan tadi, kami duga para petugas ini coba cari cap imigrasi masuk Phuket tapi ga nemu. Terus baru nyadar ada cap imigrasi masuk daerah Thailand yang lain setelah kami tunjukin. Udah gitu doang :))

Akhir kata, dari tempat-tempat yang kami kunjungi di trip ini, yang mungkin kami kunjungi untuk tujuan wisata lagi sih… Krabi ya 😀 Di trip ini ada wisata kota dan alam, dan jujur sebenarnya kami ga begitu doyan wisata kota, tapi kali ini mau coba yang sedikit di luar kebiasaan. Ternyata, bagi saya wisata kota itu lumayan kalau pakai pindah-pindah jalan darat gini dan minimal ada waktu 2 hari melakukan kegiatan di alam. Tapi lain hal dengan suami, dia sok-sok kalem sampai akhirnya pas kami kayaking di Krabi, dia nyaut, “Nah, liburan tuh harusnya kayak gini… bukan keliling-keliling doang kayak kemarin!” Haha…

Advertisements

Perjalanan Darat dari Singapore ke Phuket (Bag 2)

Hari 4-6: Krabi

Minivan menjemput kami di penginapan di Georgetown untuk pergi ke Krabi. Perjalanan akan ditempuh dari pagi hingga sore. Dari Malaysia, kami masuk ke Thailand lewat kantor imigrasi Songkhla. Nama checkpoint imigrasi ini harap diingat kalau-kalau ada masalah di kemudian hari seperti yang sempat kami alami di Phuket (lebih detail di postingan selanjutnya).

Kantor imigrasi ini sepi sekali, dan dibanding imigrasi di negara-negara sebelumnya yang lancar jaya, ini imigrasi yang agak berdrama. Hehe. Mulai dari supir minivan yang memungut biaya beberapa ringgit dari penumpang (yang belakangan saya tau kalau itu uang pelicin :P), petugas imigrasi yang khusus ngecek orang Indonesia (jadi kami pemilik paspor hijau dicek dua kali, di antrian dan di loket, huh), sampai ada seorang penumpang turis Rusia yang ga bisa bahasa Inggris dan akhirnya mesti ditinggal di imigrasi.

Kami melanjutkan perjalanan selama beberapa jam dan sudah melewati Hat Yai. Pada titik ini, kami agak-agak resah karena… lapar! Haha… Saya dengar biasanya minivan bakal bawa penumpang istirahat di terminal Hat Yai untuk makan, jadi kami ga bekal cemilan sama sekali. Untungnya setelah agak lama, minivan berhenti di sebuah pusat oleh-oleh. Kami makan fried chicken dari sebuah gerobak franchise, dan itulah makanan paling enak yang pernah kami makan selama trip ini (mungkin karena lapar banget ya haha…)

Dengan perut terisi, kami lebih menikmati perjalanan selanjutnya. Pemandangan di kota-kota menuju Krabi ini menurut saya mirip dengan di kota kecil di Indonesia. Bedanya tulisannya ga kebaca aja gitu. Hehe… Setelah tiba di Krabi Town, supirnya tanya kami mau ke mana. Kami menginap di daerah Ao Nang yang letaknya tepi pantai. Si supir menurunkan dan mengarahkan kami ke sebuah songthaew (angkot) jurusan Ao Nang. Pemandangan ke Ao Nang cukup keren dengan banyaknya limestone di kanan kiri jalan. Kami sempat kebingungan cari lokasi hotel, tapi supir dan penduduk lokal baik banget ikut membantu sampai telepon ke hotelnya segala dan pas nyasar dikasih tumpangan gratis *terharu. Jadi ingat kata teman saya yang ke pernah ke sana, “Krabi kotanya biasa aja, tapi penduduknya ramah banget.” Itu ternyata benar adanya.

Ao Nang Beach

Sampai di hotel, kami senang liat kamarnya. Ini harganya semalam 250K kalau dirupiahin, dan dengan harga segitu masih lebih bagus daripada yang bisa didapat di Indonesia (apalagi Singapore dan Penang :P). Jadi ngerti kenapa ada orang Indo yang doyan bolak-balik ke Thailand. Hehe…

Kegirangan dapat kamar murah dan luas di Ascott Krabi

Kegirangan dapat kamar murah dan luas di Ascott Krabi

Malamnya kami jalan-jalan sekitar hotel sampai pantai. Suasananya enak, seperti Kuta tapi jauh lebih tenang. Enak buat liburan keluarga. Di sini juga ada pertunjukan kabaret ladyboy dan kickboxing, tapi tampaknya ga segahar di Phuket 😛

Suasa Ao Nang di malam hari

Suasana Ao Nang di malam hari

Buat yang muslim, liburan ke sini juga enak karena banyak makanan halal. Penduduk Krabi mayoritas muslim, jadi jangan heran kalau ketemu masjid besar dan perempuan lokal yang berjilbab. Makanan favorit kami selama di Krabi adalah Thai Pancake, yang sebenarnya mirip-mirip roti canai dengan isi macam-macam seperti keju tomat atau pisang coklat.

Malam-malam jajan Thai Pancake

Malam-malam jajan Thai Pancake

Besoknya Thai Pancake lagi :P

Besoknya Thai Pancake lagi *doyan 😛

Kami punya 2 hari full di Krabi, jadi mau eksplor pulau-pulau sekitarnya. Kami ikut kayaking tour ke Hong Island, dan besoknya lagi ikut Phi Phi Island tour. Masing-masing kena biaya 1000 THB dari agen di hotel. Harga termasuk antar jemput ke hotel, makan siang, dan sewa mask untuk snorkeling. Masih kurang murah untuk ukuran low season ya, tapi kami ga mikir buat nawar atau cari-cari lagi di luar karena berasa murah setelah jalan dari Singapore yang serba mahal. Haha…

Kayaking di Hong Island

Ada yang bilang kalau pulau Hong ini yang terindah di sekitar Krabi, jadi penasaran ke situ. Untuk tour ke Hong Island, tournya ada yang snorkeling dan ada yang sama kayaking. Yang sama kayaking lebih mahal, tapi beneran deh mending pilih yang kayaking karena snorkelingnya mah biasa aja *spoiler banget ya haha. Tapi emang kayakingnya asik sih, mengelilingi pulau Hong dari pagi sampai siang, jadi bisa liat pantai di sisi lain pulau Hong dan juga mampir ke laguna tersembunyi. Yang ikut kayaking juga masih sedikit. Oh iya kayaking di sini dayung sendiri ya, bukan yang didayungin sama mang-mang gitu :)) jadi bisa lumayan olahraga.

Perahu kayu yang akan mengantarkan kami ke Hong Island

Perahu kayu yang akan mengantarkan kami ke Hong Island

Kayaking di Hidden Lagoon

Kayaking di Hidden Lagoon

Lagoon kecil di Hong Island

Pemandangan di Hong Island

Phi Phi Island Tour

Nah kalau yang ini udah terkenal banget, ga usah dijelasin ya. Hehe… Intinya island hopping dan snorkeling di sekitar Phi Phi island dengan speed boat. Meskipun itungannya waktu itu low season, ternyata tetap aja kayak cendol… rame banget! Kalau mau sepi emang harus nginep di Phi Phi dan sewa kapal sendiri pagi-pagi. Snorkelingnya lumayan, tapi lautnya lagi choppy banget. Di kapal kami, dikasih aturan cuma yang bisa berenang aja yang boleh turun snorkeling.

Phi Leh Bay, lokasi tempat snorkeling

Phi Leh Bay

Spot snorkeling

Spot snorkeling

Coralnya lumayan subur (sekalian pamer otot kaki)

Coralnya lumayan subur (sekalian pamer otot kaki)

Lokasi sarang burung walet?

Lokasi sarang burung walet?

Pantai di Phi Phi Island

Sampai di Phi Phi Island, cuaca lagi agak mendung

Eh lumayan panjang ya postingan tentang Krabi. Maklum emang itu yang paling berkesan buat kami, dari penduduknya yang ramah sampai kegiatannya yang asik. Destinasi selanjutnya Phuket, akan dibahas di bagian terakhir. Stay tune ya… 😛

Perjalanan Darat dari Singapore ke Phuket (Bag 1)

Kali ini saya mau sharing pengalaman jalan-jalan menyusuri Singapore – Phuket via darat tahun lalu. Berhubung jalan-jalan ke negara tetangga udah ga asing buat wisatawan Indonesia, saya ga akan bahas banyak soal tempat wisatanya, tapi lebih ke perjalanannya aja. Sebenernya dengan banyaknya promo tiket pesawat, biaya trip via udara bisa jadi ga jauh lebih mahal (kalau hoki :P), tapi menurut saya perjalanan via darat tetap memberi warna yang berbeda. Apalagi kalau mau pindah-pindah antar kota yang jaraknya ga begitu jauh, jalur darat malah lebih praktis karena ga perlu urusan bolak-balik bandara.

Itinerary

Jelas sekali sebagai penggemar pantai tujuan utama kami ke Thailand. Singapore dan Malaysia agak-agak numpang lewat aja :)) Trip kami rutenya Bandung – Singapore – Penang – Krabi – Phuket – Jakarta. Waktu pergi sih belum ada bayangan mau ngapain aja selain island hopping di Thailand dan nonton ladyboy 😀

  • Hari 1-2: Singapore
  • Hari 3: Penang
  • Hari 4-6: Krabi
  • Hari 7-8: Phuket
Dari Singapore ke Phuket

Dari Singapore ke Phuket

Dari jalurnya sih sebenarnya bisa singgah dulu di Malacca dan Kuala Lumpur… tapi dengan waktu yang cuma 8 hari, kami lebih prioritaskan main air di Thailand. Hehe…

Transportasi

Ada beberapa pilihan transportasi untuk pergi lintas batas Singapore – Malaysia – Thailand, seperti kereta api, bus, dan minivan. Kereta api lumayan murah dan populer, tapi bagi kami ini kurang efisien dari segi waktu karena mesti stop semalam dulu di Kuala Lumpur. Dari Penang ke Krabi pun kurang efisien karena kereta cuma ada sampai Hat Yai dan selanjutnya mesti naik bus.

Pilihan kami jatuh pada bus untuk perjalanan Singapore – Penang, dilanjut minivan untuk perjalanan Penang – Krabi dan Krabi – Phuket. Moda transportasi ini harganya memang lebih mahal sedikit dari kereta, tapi perjalanannya direct jadi lebih hemat waktu. Bus dari Singapore ke Penang bisa dibooking online di Easybook, dicari aja yang sesuai jadwal. Kalau minivan dari Penang dan Krabi cari di tempat aja, biasanya bisa pesan di hotel/penginapan atau travel agent di sekitarnya.

Hari 1-2: Singapore

Singapore mungkin salah satu negara yang paling gampang dipakai melancong orang Indonesia. Jaraknya dekat banget juga, kurang berasa ke luar negeri. Keliling-keliling juga bisa pakai MRT yang sistemnya cukup mudah dipahami bahkan buat yang baru pertama kali coba.

Sebenarnya Singapore sebagai tujuan wisata itu not our cup of tea, secara beton dan man-made attraction di mana-mana sih ya hehehe… Tapi kadang tiket Bandung-Singapore itu murah banget, dan chicken rice di sana itu enak banget… jadi yeaa, kenapa tidak? Haha. Selama jalan-jalan di sana, kami pergi ke tempat turis standar macam Merlion, Orchard road, Double Helix bridge, Garden by the Bay, etc.

Suasana penginapan kami di Bunc@Radius Hostel Little India

Suasana penginapan kami di Bunc@Radius Hostel Little India

Pastinya ga belanja :P

Di Orchard, pastinya ga belanja 😛

Background Marina Bay dan Double Helix Bridge

Background Marina Bay dan Double Helix Bridge

Di akhir hari ke-2, kami akan pergi naik bus malam ke Penang. Bus ini berangkat dari Golden Mile Complex. Ke sana sorenya naik MRT, turun di Nicoll Highway Exit A. Di kejauhan kelihatan gedung bertuliskan Golden Mile. Begitu sampai tempatnya, kami kaget kok sepiii banget. Bangunannya seperti pusat pertokoan tua macam Palaguna kalau di Bandung. Cuma ada beberapa toko yang buka, dan ada toko yang bagian depannya tertutup dengan foto-foto para perempuan seksi beserta nomornya xD So shady hahaha. Ngintip ke lantai bawah, ada beberapa orang tua main mahjong. Karena suasananya agak aneh, kami keluar bangunan aja. Pas liat-liat lagi… ealaaah ternyata ini Golden Mile Tower. Golden Mile Complex itu di sebelahnya! 😀

Di Golden Mile Complex, akhirnya kami nemu juga counter busnya. Kami naik bus Sri Maju yang dari hasil browsing sih reputasinya cukup bagus. Bus berangkat jam 9 malam dan akan sampai di Penang sekira jam 6 pagi. Harga tiketnya ga murah-murah amat, 40 SGD (sebaliknya tiket dari Malaysia ke Singapore biasanya lebih murah), tapi busnya nyaman buat tidur dan lumayan bisa menghemat ongkos menginap 1 malam. Seat di busnya memang dirancang untuk orang tidur jadi lumayan lapang, ada sandaran kaki, dan kursinya bisa disandar jauh ke belakang. Ada selimut juga untuk setiap penumpang.

Ga begitu lama setelah bus berangkat, kami sampai di perbatasan Singapore dan Malaysia. Di imigrasi masuk Malaysia, saya sedikit was-was juga… karena lewat darat dan ga ada bookingan tiket keluar Malaysia, gimana kalau dicurigai TKW selundupan? Hehe… Ternyata pikiran itu berlebihan, karena petugas yang melayani saya ramah sekali dan langsung kasih stempel tanpa tanya-tanya.

Hari 3: Penang

Setelah urusan imigrasi selesai, waktunya melanjutkan perjalanan. Awalnya saya pikir jalanan ke Penang bakal berkelok-kelok seperti di banyak daerah di Indonesia. Ternyata perjalanannya lewat jalan tol yang bahkan lebih lurus daripada jalan tol Bandung-Jakarta :)) Katanya bus ini akan berhenti di beberapa tempat menuju Penang. Karena kami akan menginap di Georgetown, rencananya pagi-pagi turun di Butterworth untuk naik ferry ke Georgetown. Seperti yang dibilang, busnya nyaman untuk tidur. Malah sangat nyaman sampai paginya waktu saya buka mata, langit sudah cukup terang dan bus sedang melewati jembatan menuju Pulau Pinang. Saya cukup terkesan juga melihat skyline perkotaan di Pulau Pinang dari kejauhan, sampai saya tersadar… Kalau ini di jembatan menuju pulau, berarti Butterworth udah kelewatan dong? Jreng jreng… xD

Langsung bangunin si suami dan kasih tau situasinya. Doski sama cluelessnya haha… Kami pasrahkan aja ke mana pun bus ini membawa. Akhirnya bus berhenti di terminal Sungai Nibong. Setelah tanya-tanya orang sana gimana cara ke Georgetown, kami naik bus Rapid Penang no 301 dari luar terminal (kalau yang lewat ke dalam terminal bakal muter-muter dulu sebelum ke Georgetown). Penginapan kami adanya di jalan Muntri. Atas arahan bapak supir bus, kami turun di Komtar dengan biaya 2 MYR.

Dari Komtar kami jalan cukup jauh ke penginapan, berbekal map yang udah di-load di hape sebelum berangkat ke Penang. Kesan saya terhadap Georgetown, somehow seperti Braga yang lebih besar gitu. Ga nyangka juga banyak banget bule melancong ke situ. Penang terkenal dengan wisata kulinernya, jadi begitu keluar jalan-jalan udah pasti rencananya makan. Hehe… Kami coba nasi kandar yang lumayan terkenal. Agak mirip nasi Padang sebenarnya, cuma di sini ada pilihan nasi briyani dan rempahnya sedikit lebih berasa India.

Kedai Nasi Kandar Beratur (Line Clear)

Kedai Nasi Kandar

Di Georgetown ada banyak street art yang tersebar di sudut-sudut kota. Kalau niat bisa hunting sambil sepedaan keliling kota. Kami sih selow aja keliling jalan kaki sambil foto kalau ketemu street art di pinggir jalan.

Melewati sebuah kuil di Georgetown

Melewati sebuah kuil di Georgetown

Street art di Jalan Muntri

Street art di Jalan Muntri

Street art di Love Lane

Street art di Love Lane

Karena besoknya mau ke Krabi, kami pesan tiket minivan dari penginapan. Biayanya agak lupa hehe, tapi kalau ga salah 60 MYR. Di sekitar Georgetown banyak travel agent sebenarnya, kalau beli di sana mungkin bisa tawar-menawar dan jadi lebih murah. Tapi kami pilih beli dari penginapan aja karena harganya masih standar. Kisah perjalanan ke Krabi besoknya bersambung di Bag 2…