Sulawesi Selatan

Perjalanan Pertama ke Wakatobi (Bag 4 – Tamat)

Masih ngutang nulis¬†bagian terakhir trip Wakatobi November taun lalu. Udah lama bener ya haha ūüėÄ

Hari 5: Diving di Marimabuk dan Table Coral City

Awalnya kami udah pasrah kalau di trip ini ga bisa diving. Jadi ceritanya karena kesibukan (ciyeeh), kami baru ngurus booking segala macam sekitar 1 minggu sebelumnya. Ada 2 dive center di Tomia… well, asalnya 1 tapi pecah kongsi, jadi Tandiono Dive Center (Pak Ade dkk) dan Tomia Scuba Dive Center (Dr. Yudi). Udah tanya dua-duanya, divingnya pada penuh. Seperti yang dibilang, di sini fasilitas dan DM terbatas, jadi kalau ada 1 rombongan keluarga yang diving aja kita langsung ga kebagian. Eh ternyata malam hari ke-4 kami dapat kabar kalau besoknya bisa diving sama Dr. Yudi. Yaaaay!

Spot diving yang kami kunjungi namanya Marimabuk dan Table Coral City. Diving di 2 spot ini sama-sama bagusss… karang-karangnya jelas tidak mengecewakan (udah bisa diliat waktu snorkeling), juga ketemu penyu, pari, dan schooling ikan ukuran medium. Arusnya kadang tenang kadang lumayan kerasa, baru menjelang akhir penyelaman di Table Coral City kena arus lumayan kencang sampe susah banget majunya.¬†Dr. Yudi sebagai DMnya benar-benar ramah dan sabar. Mungkin karena udah terlatih sebagai dokter ya. Hehe…

Btw di sini pengalaman pertama saya ketemu schooling barracuda. Pernah sih liat great barracuda di Tulamben dan barracuda biasa di Iboih, tapi yang bergerombol baru kali ini. Ngeliatnya takjub tapi deg-degan juga awalnya ūüėÄ Yang di bawah ini foto barracuda di Table Coral City. Yang di Marimabuk sebenernya lebih gede-gede dan banyak, tapi gambarnya ngeblur ūüėõ

The Barracudas

The Barracudas

Penyu parkir di karang

Penyu parkir di karang

Ikan-ikan berseliweran

Ikan-ikan berseliweran

Eh ikan-ikan ini kalau di foto keliatannya kecil padahal aslinya medium… coba bandingkan sama coral di bawahnya. Dan berhubung peralatan memotret seadanya, maklumin aja ya fotonya¬†pada bladus¬†gitu *alesan ūüėÄ

Soal dive centernya, walaupun equipmentnya terbatas, ternyata kapal dan service-nya ga kalah sama dive center gede loh. Kapalnya cukup gede dan ada tempat tabungnya, trus alat-alatnya juga udah disetup sama awak kapal, tinggal ngecek. Untuk 2 kali diving kena 750K. Waktu itu ga persiapan bawa duit diving, tapi untungnya kalau sama Dr. Yudi bisa bayar transfer via SMS atau m-Banking (ngingetin aja di pulau ini ga ada ATM ataupun jaringan yang reliable buat e-banking). Kalau dive center yang satunya lagi cuma bisa tunai.

Puncak Tomia

Selesai diving, kami bersama 4 orang kenalan sewa mobil buat liat sunset di puncak Tomia. Sewanya 300K semobil sama supir, karena kami ga ada yang tau arahnya. Ternyata tempatnya ga terlalu jauh, jalannya masih searah dengan jalur Waha-Usuku, cuma di dekat kantor kas atau apa gitu namanya (silakan yang inget tolong benerin :p) kita tinggal belok ke daerah atas sampai nemu padang rumput ini. Tempatnya bagus buat pacaran ūüėÄ

Puncak Tomia

Sunset view di Puncak Tomia

Hari 6: Tomia – Bau-Bau

Inti dari hari ini adalah perjalanan laut dari Tomia ke Bau-Bau dari pagi sampai malam. Pagi-pagi setelah sarapan kami pamit dari penginapan buat pergi ke pelabuhan Usuku, dianter lagi sama Pak Ade dan ojek, per orang 35K. Kapal dari Tomia ke Bau-Bau ini lebih kecil dari kapal Bau-Bau – Wanci, tapi sama juga tiap penumpang dikasih tempat di matras. Asalnya saya mau di tempat biasa aja, tapi ternyata suami udah minta sewa kamar ke ABK. Ternyata kalau di kapal ini ga ada kamar ABK, tapi ada kamar di belakang ruang kemudi yang lebih lega buat tiduran dan selonjoran. Dia minta tarifnya 150K per orang (kalau tiket biasa 120K). Kami ambil aja lah lumayan.¬†Sekitar jam 10 pagi kapalnya berangkat. Bye bye Wakatobi ūüė•

Ruang kemudi kapal Tomia - Bau-Bau

Ruang kemudi kapal Tomia – Bau-Bau

Perjalanan ke Bau-Bau ini memakan waktu sekitar 10 jam. Ini perjalanan laut saya yang paling lama, tapi anehnya juga yang paling nyaman! Sepanjang hari cuaca cerah dan laut tenang. Oiya¬†sepanjang trip Wakatobi ini saya ga sekali pun minum antimo loh… haha *bangga *apasih. Kapal ini juga cukup bersih, karena selama 10 jam itu saya ga nemu satu pun kecoa,¬†kontras dengan pengalaman waktu berangkat :p Tapi tetep mesti hati-hati sama barang bawaan. Menjelang berlabuh, tiba-tiba di kapal heboh… ada maling ketangkep, orangnya masih ABG, dan di tasnya banyak HP hasil colongan dari orang-orang di kapal. Pantesan saya sempet liat anak ini bolak-balik terus dan celingak-celinguk mencurigakan.

Ahirnya sekitar jam 8 malam kapal kami sampai di Pelabuhan Murhum, Bau-Bau. Dari sini kami jalan kaki aja ke arah patung kepala naga buat cari-cari penginapan.

Wisma Mulia

Awalnya kami tanya kamar kosong di Hotel Neo Calista, tapi pada penuh, dan mereka rekomen Wisma Mulia yang letaknya ga jauh dari situ (masuk jalan sebelah Neo Calista/dekat penginapan Marannu, terus belok kanan ke jalan kecil). Di sini harganya murah-murah, dari 100K sampai 250K tergantung fasilitas dan letak kamar. Kami pilih yang 250K aja, kamar double + AC + kamar mandi dalam di lantai paling bawah.

Pasar Malam Pantai Kamali

Berbeda dengan waktu siang, ternyata waktu malam daerah patung naga atau Pantai Kamali rame sama pasar malam. Di sini banyak yang jual gorengan dan minuman tradisional seperti Saraba (menurut saya rasanya cukup enak mirip STMJ). Ada juga yang buka lapak DVD, kosmetik, casing HP, dsb.

Suasana Patung Naga malam hari

Suasana Patung Naga malam hari

Waktu malam juga lebih banyak tempat makan yang buka. Tapi tetep aja kami makan di tempat yang kemarin, yaitu rumah makan Family… saking doyannya saya sama ayam bakarnya. Dan saya jadi mempertanyakan kenapa di daerah saya ayam bakar itu defaultnya dibalur kecap ya *renungan penting.

Hari 7: Bau-Bau – Makassar

Pagi-pagi berangkat dari penginapan ke bandara naik taksi yang udah dipesenin, biayanya 37K. Perjalanan udara dari Bau-Bau ke Makassar pake Merpati, yang saat postingan ini ditulis sudah tidak beroperasi. Huhuhu… Oh iya Bandara Betoambari ini termasuk kecil, airport taxnya 14K saja dan boarding pass-nya ditulis tangan ūüėÄ

Kami sampai di Makassar siang-siang, dan seperti saat berangkat dari Jakarta, kembali kami naik Damri dan menginap di Wisma City Inn. Kali ini nginapnya udah dapet harga yang bener 250K. Hehe…

Karebosi

Sorenya kami jalan dikit ke lapangan Karebosi dan Karebosi Link. Karebosi Link ini kayak ITC + BEC gitu lah kalo di Bandung, ada kios baju-baju dan ada kios elektronik juga.

Lapangan Karebosi

Lapangan Karebosi

RM Lae-Lae

Malamnya saudara yang di Makassar ngajak jalan lagi. Kali ini kami ditraktir makan di RM Ikan Segar Lae-Lae. Iyes, ikan segar. Padahal kami berdua sama-sama ga makan ikan :)) Bagi saya ini cukup menantang *lebay* karena selama beberapa bulan sebelumnya saya sudah melatih diri untuk bisa makan seafood. Ternyata setelah coba, udang bakar di sini enak dan ga amis, plus sambelnya seger. Yang sama sekali ga makan seafood seperti si suami pun ga masalah karena ternyata bisa pesan ayam bakar, walaupun ayamnya ngambil dari warung sebelah :))

RM Ikan Segar Lae-Lae

RM Ikan Segar Lae-Lae

Hari 8: Fort Rotterdam

Rencana hari terakhir trip ini, lagi-lagi awalnya saya pengen snorkeling di Samalona, sampai kemarinnya sempet tanya-tanya saudara segala. Tapi si suami lagi agak males. Dipikir-pikir yah repot juga sih kalau bawa gembolan baju basah ke pesawat, jadi mungkin lain kali aja sekalian kalau mau ke Tanjung Bira atau Selayar *amiin…

Jadinya hari ini kami jalan¬†aja¬†ke Fort Rotterdam¬†yang jaraknya¬†sekitar 800m dari Wisma City Inn. Masuk ke sana mesti isi buku tamu dulu, dan diminta sumbangan¬†seikhlasnya. Ya udah saya kasih 20K buat kami berdua. Sama yang jaganya duitnya diambil aja gitu trus masuk lacinya.¬†Hmm mungkin sebaiknya pake catetan atau kotak sumbangan gitu, supaya pengunjung ga negatif thinking… Heuheu.

Fort Rotterdam ini bangunannya cukup terawat dan asri. Untuk sejarahnya silakan googling aja ya :)) Di dalamnya ada museum La Galigo yang isinya tentang sejarah Makassar.

Di depan kompleks Fort Rotterdam

Di depan kompleks Fort Rotterdam

Fort Rotterdam

Fort Rotterdam, lagi ada panggung atau apa gitu

Sorenya kami udah harus ke bandara. Di perjalanan sebelumnya¬†kami pilih pake taksi ke bandara biar bisa lewat tol, tapi kali ini kami naik Damri aja dari terminal depan Gedung Kesenian (300m dari Wisma City Inn) berhubung masih banyak waktu. Setelah nunggu sekitar 15 menit di halte, busnya datang dan kami bayar karcis per orang 25K. Ternyata bus ini juga langsung capcus ke bandara lewat tol, jadi sama cepatnya dengan taksi! Hehe… Btw kami waktu itu¬†naik pesawat AirAsia Makassar-Jakarta, yang saat postingan ini ditulis, sama juga rutenya sudah tidak¬†beroperasi. Heu…

Begitulah perjalanan pertama kami ke Wakatobi, sedikit Makassar dan¬†Bau-Bau. Dibilang perjalanan pertama bukan karena udah¬†berkali-kali ke sana sih, tapi emang¬†saya pengen ada yang ke-2 ūüėÄ Lain kali mungkin agak susah cari penerbangan murah, berhubung semua penerbangan yang ada di postingan ini udah ilang semua. Heuheu… tapi semoga aja bisa ya…

Perjalanan Pertama ke Wakatobi (Bag 2)

Sebenernya perjalanan ke Wakatobi selama 8 hari kemaren bisa dibilang setengahnya abis di jalan ūüôā Tapi emang kami sekalian mau sedikit eksplor tempat lain sih, jadi peribahasanya sambil menyelam dua tiga pulau terlampaui (tuh, bahkan dua peribahasa pun saya singkat jadi satu :p)¬†Akhirnya itinerarynya 3 malam di Wakatobi, 2 malam di Makassar, 1 malam di Bau-Bau, dan 1 malam di tengah laut:

  • Hari 1: Makassar
  • Hari 2: Bau-Bau
  • Hari 3: Wangi-Wangi – Tomia
  • Hari 4: Snorkeling di sekitar Tomia dan Pulau Sawa
  • Hari 5: Diving di Marimabuk dan Table Coral City
  • Hari 6: Tomia – Bau-Bau
  • Hari 7: Bau-Bau – Makassar
  • Hari 8: Fort Rotterdam

Hari 1: Makassar

Bandara Sultan Hasanuddin Makassar

Bandara Sultan Hasanuddin Makassar

Dari Jakarta naik pesawat AirAsia ke Makassar, sampai di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pagi menjelang siang. Begitu keluar pintu kedatangan langsung banyak supir taksi yang memperebutkan kami. Hehe… Tapi kami sih pilih Damri aja. Di loketnya kami bayar per orang 25K, trus turun ke tempat tunggu. Kalo ga salah ada sekitar 15 menit kami nunggu sampai busnya datang.¬†Rute Damri (sesuai yang ditulis di karcis):

Bandara Sultan Hasanuddin – Jl P. Kemerdekaan – Jl. U. Sumoharjo – Jl G.Bawakaraeng – Jl Kartini – Jl Kajoalalido – Jl Arif Rate – Jl Sultan Hasanuddin – Jl Pattimura (Pasar Baru) – Jl Ujung Pandang – Jl Ribura’ne

Perjalanan ke penginapan lumayan juga sampe 1 jam 40 menit. Kebanyakan karena macet sih. Ternyata Makassar itu sangat maju kotanya ya, indikatornya banyak sekali mobil-mobil pribadi sampai macet. Hehe… (beneran ini maksudnya muji lho :D)

Wisma City Inn

Penginapan yang kami booking namanya Wisma City Inn, ada di Jl Ahmad Yani dekat lapangan Karebosi. Cukup dekat juga sama Chinatown yang banyak penginapan-penginapan backpackernya. Kami berhenti di halte terakhir Damri (depan Gedung Kesenian) dan jalan kaki sekitar 300 m sampai ketemu daerah ruko-ruko pinggir jalan yang ada KFC dan Sports Station. Masuk dikit ngelewatin KFC langsung ketemu deh tempatnya.

Penginapan ini kayaknya lumayan baru, jadi masih promo-promo gitu. Kami bookingnya dari booking.com, kamar deluxe dapet 287K per malam. Ehh nyampe sana taunya di depannya ada spanduk, promo kamar deluxe 250K! Tapi kami tetep dapet harga booking.com xD Kamarnya kecil tapi bersih dan nyaman, kamar mandinya juga bagus.

Kamar Wisma City Inn

Kamar Wisma City Inn

Niat awal saya begitu nyampe Makassar mau snorkeling di Samalona yang ga jauh dari Pantai Losari. Tapi kenyataannya nyampe-nyampe ngantuk banget gara-gara kemaren malemnya ga tidur. Bangun-bangun udah sore dan laper.

Mie Titi

Dari penginapan, jalan dikit ke salah satu cabang Mie Titi di Jl Dr. Wahidin. Mie khas Makassar ini mie kering yang disiram kuah kental dengan potongan-potongan daging ayam. Enaaak… Katanya mie kering di Makassar ini selain Mie Titi ada juga Mie Awa, Mie Anto, dan Mie Hengky.

Pantai Losari

Setelah kenyang makan, kami balik lagi jalan ke arah Pantai Losari. Niatnya mau jalan kaki terus ke tempat yang ada tulisan gede Pantai Losari-nya itu, tapi begitu nyampe depan kantor pos ada tukang becak, ya udah becakan 20K ke sana. Hehe… Ga tau segitu standar apa mahal apa murah, tapi jelas menghemat waktu sih, karena emang ga deket-deket amat ternyata :p

Waktu itu menjelang sunset, dan pantainya rame banget… Pantai sekitar sini sih bukan buat maen air. Ada bagian yang warna ijo-ijo limbah gitu malah (walau tetep ada juga anak-anak yang nyebur :D). Tapi lumayan sih buat kumpul, nyemil, duduk-duduk liat sunset gitu.

After Sunset di Losari

After Sunset di Losari

Setelah magrib kami pulang kembali ke penginapan naek angkot kode B. Malamnya saudara yang di Makassar berkunjung ke penginapan dan ngajak keliling. Jam 10 malam tuh masih rame aja ya di sana, dan masih macet terutama jalan ke arah pantai. Katanya sih kalau malam minggu gitu emang rame, tempat makan dan nongkrong dekat pantai buka sampai jam 2 pagi.

Hari 2: Bau-Bau

Pagi-pagi check out buat ngejar pesawat Merpati ke Bau-Bau. Karena pengen cepet dan takut macet, kami naek taksi aja lewat jalan tol, tarif 120K (dimahalin dikit sama supirnya :p)  Nyampe bandara lumayan cepat, beda sama waktu datang kemarin.

Penerbangan Makassar – Bau-Bau ini pertama kalinya saya naik pesawat baling-baling. Pernah denger juga sih orang-orang bilang serem naik pesawat gini goyang-goyang, bikin mual, dsb. Beruntunglah kami cuaca waktu itu bagus, jadi malah lebih asik karena sepanjang jalan bisa ngeliat pemandangan pulau-pulau bagus dengan lebih jelas.

Pemandangan menuju Bau-Bau

Pemandangan menuju Bau-Bau

Penerbangan ke Bau-Bau sekitar 1 jam. Pesawat kami mendarat di Bandara Betoambari Bau-Bau. Di tempat ambil bagasi ada tulisan semacam gini: untuk keamanan, pakailah transport resmi bandara. Karena pengen tau, kami tanya ke petugas bandara, transport resminya di mana. Lalu beliau panggil temannya, salah satu penduduk lokal yang nawarin transport di pintu keluar. Lho ini kayaknya ga resmi juga deeeh :)) Rencana kami malamnya mau ikut kapal ke Wangi-Wangi. Tujuan utama kami Tomia sih, tapi hari itu (Minggu) ga ada jadwal kapal langsung ke sana. Karena masih lama, kami mau sewa mobil (plus supir/guide) buat keliling kota Bau-Bau. Setelah nego dapat 300K untuk sewa sampai malam.

Benteng Kesultanan Buton

Benteng ini konon terluas di dunia. Entahlah, kalo ga percaya silakan ukur sendiri :p Letaknya ada di daerah bukit, jadi dari benteng ini bisa liat pemandangan kota dan laut sekitar Bau-Bau.

Salah satu sudut di Benteng Kesultanan Buton

Salah satu Gerbang di Benteng Kesultanan Buton

Btw hati-hati kalau mau duduk-duduk atau berdiri di tepi benteng, soalnya kata guide kami (dan dengar percakapan pengunjung lain) pernah ada orang pacaran tewas karena jatuh dari situ.

Pantai Nirwana

Jalan ke pantai ini agak jauh. Pantainya lumayan bagus dan terawat. Di sini banyak abege nyebur, ada juga rombongan yang bakar ikan. Kami sih nongkrong ga jelas aja di bale-bale pinggir pantai berhubung ga ada persiapan buat basah-basahan. Sayang waktu ke pantai ini turun hujan, kalau cuaca cerah pasti lebih bagus warnanya.

Pantai Nirwana di hari yang mendung

Pantai Nirwana di hari yang mendung

Patung Naga

Patung naga ini salah satu ikonnya Bau-Bau, dan terdiri dari 2 bagian: kepalanya di pantai, ekornya di gunung. Hmm… ngebayangin seandainya pas tanah digali ketemu badan naganya :)) Ekornya ada di depan kantor pemerintahan, sedangkan kepalanya di dekat daerah pelabuhan.

Ekor Naga membelah langit

Ekor Naga membelah langit

Kepala Naga

Kepala Naga

Setelah keliling-keliling dan mulai lapar, kami dibawa ke rumah makan Family dekat patung kepala naga. Ayam bakarnya enakkk… agak-agak kayak taliwang tapi lebih mild dan pake sambel tomat.

Sebenarnya ada beberapa objek wisata lain di Bau-Bau, seperti Air Terjun Tirta Rimba dan Goa Lakasa. Tapi kata abang guide, air terjunnya lagi kering. Kalo buat goa, saya baca-baca sih treknya lumayan lama dan kayaknya basah-basahan juga, jadi skip dulu.

Penginapan Marannu

Karena kami udah ga tau mau ke mana padahal hari masih sore, kami minta didrop aja di penginapan murah yang bisa buat istirahat sambil nunggu. Penginapan Marannu ini letaknya ga jauh dari patung kepala naga. Kami sewa sebuah kamar sederhana 50K, fasilitasnya kasur mungil dan kipas angin aja. Lumayan buat leyeh-leyeh sampai malam. Nanti pas mau ke pelabuhan malamnya baru kami hubungi abang guidenya lagi minta jemput. Sebenernya dari situ jalan kaki pun bisa sih, cuma kalo bisa dianter ya dianter aja :))

Pelabuhan Murhum

Malamnya, jadwal kapal berangkat jam 9. Kami stand-by di sana sekitar jam 7. Awalnya bingung juga sih bayarnya gimana berhubung kami mau sewa kamar ABK (siangnya udah ngomong sama seorang awak kapal), trus kok kayaknya orang naik-naik aja ya, ga ke loket gitu. Ternyata beli tiketnya di seorang awak kapal/petugas tiket yang keliling di kapal sebelum berangkat, per orang 125K. Buat bayar sewa kamarnya nanti ditagih terpisah sama ABKnya pas udah mau nyampe. Oooh begitu…

Kamar ABK dengan seprai Naruto

Kamar ABK dengan seprai Naruto

Btw, fasilitas standar kapal ini ada matras buat tiap penumpangnya. Wajar, soalnya emang bakal semalaman di laut. Perjalanan ke Wangi-Wangi sekitar 8 jam, jadi sampai sana besok paginya. Biasanya yang mau naik kapal ini sebelumnya udah datang buat naruh barang atau lipat matras buat nge-tag tempat. Saya pilih sewa kamar ABK dengan pertimbangan tempat matrasnya itu terbuka dan kami semalaman di tengah laut, jadi harapannya di kamar lebih terlindungi dari terpaan angin malam (dan asap rokok barangkali). Ternyata sewa kamar ini ga sepenuhnya ide bagus. Kenapa? Well… Di kapal ini lumayan sering liat kecoa. Berhubung saya bukan penggemar kecoa, jadi parno juga pas mau tidur takut dirayapin kecoa. Kalo di tempat terbuka kan kecoanya bisa terbang aja ya xD

Eniwei, kapalnya ternyata baru berangkat jam 10 malam. Begitu berlayar menjauh dari kota… wuih bagus banget pemandangan langitnya, bintang-bintang bertaburan gitu. Tapi ga lama-lama liat di luar, karena keanginan. Hehe… Saatnya tidur dan berharap besok sudah bisa melihat Wakatobi… (bersambung ke bagian 3)