Papua Barat

Menyibak Pesona Misool (Bag 1)

Udah lama nih ga jalan-jalan ala si bolang karena “sibuk” hamil dan ngurus anak. Daripada blognya lumutan, saya share salah satu trip yang udah lama tapi belum sempat ditulis aja ya. Pengalaman kedua kalinya ke Raja Ampat kira-kira akhir 2014, kami eksplor bagian selatannya yaitu daerah Misool. Meskipun udah sekira 2 taun yang lalu, daerah selatan ini masih alami dan belum booming kalau dibandingin daerah utara. Mungkin alasan kenapa masih jarang turis ke sana karena daerahnya juga masih belum begitu developed. Jalan-jalan di sana benar-benar cocok buat yang suka wisata alam, tiap hari full trekking dan nyebur.

Kami ke sana bareng EO yang sama dengan waktu pertama ke Raja Ampat (@wisatarajaampat). Mereka biasa bikin open trip 3x setaun, mudah-mudahan sih tetep ga dibikin terlalu sering ya. Hehe… Oiya, menurut saya kalau ada yang pengen ke Raja Ampat tapi ga suka diving, Misool lebih cocok daripada Raja Ampat utara karena pemandangan atas lautnya lebih bagus dan banyak daerah untuk trekking. Malahan di rombongan kami waktu itu ada satu orang anak gunung yang “waterproof” alias segan untuk nyebur, tapi tetap enjoy aja tuh selama perjalanan.

Ngomongin keindahan Misool, kayaknya spot random mana pun di sana keren-keren. Jujur trip ke Misool ini cukup merusak standar saya akan pantai bagus. Heuheu… Yang lebih parah sih si suami, sekarang dia sombong diajak ke pantai yang baru dan jauh, pasti dia banding-bandingin sama yang di sana. Bukan sepenuhnya salah dia juga sih kalau pemandangan standar di sana tuh kayak gini.

Pantai dengan pasir putih

Pantai dengan pasir putih

Define: crystal clear

Yang bening-bening

Spot random leyeh-leyeh

Spot random leyeh-leyeh

Berikut tempat-tempat yang sempat kami kunjungi selama trip ke Misool.

Kampung Harapan Jaya

Kampung ini adalah basecamp kami selama trip di Misool. Di sini sebenarnya ada sebuah homestay, tapi homestaynya penuh dan kami menginap di rumah guide kami sepanjang trip. Di rumah ini dan sekitarnya selalu rame dengan anak-anak. Lucunya anak-anak di sini benar-benar curious sama turis. Kalau kita lagi nongkrong dan foto-foto, mereka ga malu ngedeketin pengen liat dan pengen difoto juga. Pernah suatu malam sambil gelap-gelapan kami pergi ke dermaga buat foto bintang, tau-tau di belakang entah dari mana ada anak-anak yang ngikutin juga gelap-gelapan pengen ikut nongkrong :))

Dermaga Kampung Harapan Jaya

Sore-sore di dermaga Kampung Harapan Jaya

img_6264-2

Sky full of stars

Di kampung ini kami juga sempat menyaksikan permainan Bambu Gila, kesenian lokal yang berbau mistis. Cara mainnya ada satu bambu besar yang dipegang oleh beberapa orang. Lalu bambu ini “diberi mantra” sehingga jadi berat dan bergerak liar. Ga cuma nonton, rombongan kami yang laki-laki ikutan main juga, termasuk si suami. Seru banget, bisa sampai terpelanting gitu dia :)) *oops kok ketawa ya haha. Karena penasaran, saya tanya si suami, emang bener bambunya jadi berat? Kata dia sih, beratnya karena para pemain geraknya ga terkoordinasi aja, ada yang narik ada yang maju, jadi berat! Hehe… Yang pasti sih, selama permainan ini suasana ramai banget… ga cuma turis seperti kami, penduduk lokal juga terhibur.

Bambu Gila

Mulai kepayahan nahan Bambu Gila

Balbulol dan Dafalen

Beberapa spot snorkeling yang kami sambangi adalah Balbulol dan Dafalen. Di sini ga cuma dapat pemandangan bawah laut, atas lautnya pun oke banget. Ciri khas dua daerah ini banyak karst berbentuk cone, jadi berasa rada sureal berenang-renang dengan pemandangan seperti itu.

Balbulol

Balbulol

Underwater daerah Balbulol

Underwater daerah Balbulol

Suami ngambang di Dafalen

Suami hanyut di Dafalen

Sebenarnya kami sempat dibilangin sama teman, snorkeling di Misool ini underwaternya ga sebagus di Raja Ampat utara macam Sauwandarek gitu, tapi tetap bagus kok. Sempat liat schooling bumphead parrotfish di perairan yang agak dalam.

Danau Ubur-ubur Lenmakana

Di Indonesia ada beberapa danau dengan ubur-ubur tidak menyengat, seperti di Derawan, Togean, dan di Misool juga ada, salah satunya di daerah Lenmakana. Pernah baca postingan Mbak Trinity tentang Misool yang katanya di balik bukit ada danau ubur-ubur, tapi ke sananya mesti “setengah mati”? Jangan-jangan inilah tempatnya :))

Untuk mencapai danau ini, kita harus trekking dulu dengan medan yang cukup menantang. Kalau dibandingin sama trekking ke puncak Wayag sih, jelas yang Wayag kalah. Hehe… Di sini sampai harus “pinjam” paha ABK sebagai pijakan karena kadang jarak antar karangnya itu jauh. Sempat dengar dari salah seorang anggota rombongan juga, di trip sebelumnya sampai ada yang pingsan di sini, jadi pastikan aja badan fit. Tapi meski rada repot, saya harap sih aksesnya dibiarkan seperti itu aja. Selain untuk menjaga danaunya, ini juga menjaga bodi tetap singset selama liburan *halah 😛

Seperti halnya di danau ubur-ubur lain, di sini ga boleh pake fin, karena kibasan yang terlalu kuat bisa mencederai ubur-uburnya. Jangan memencet-mencet ubur-ubur juga meski gemesss heuheu…

I feel freeee…

Gua Puteri Termenung

Ada yang bilang namanya Gua Puteri Termenung, ada juga yang bilang namanya Gua Wanita Murung. Intinya di dalam gua ini ada stalakmit dan stalaktit, yang salah satu bentukannya menyerupai perempuan berambut panjang yang sedang menunduk. Waktu teman-teman sudah pada ngeh “Oh itu puterinya… ” saya masih menebak-nebak yang mana dia… maklum imajinasi berkurang semenjak masuk jurusan teknik *haha alesan. Masuk ke gua ini mesti sedikit trekking manjat-manjat dulu.

Gua Puteri Termenung

Sekitar Gua Puteri Termenung

Di luar gua ada pantai yang jernih dan tenang. Saya dan suami berenang leyeh-leyeh aja di situ sambil menikmati suasana.

Masih ada spot dan kegiatan lain di Misool yang ga kalah seru… bersambung ke Bag 2.

Advertisements

Rame-Rame ke Raja Ampat (Bag 3 – Tamat)

Postingan ini udah terpendam lama, tapi saya agak sedih lanjutinnya. Bukan kenapa-kenapa, ini karena ga ada foto bawah lautnya -_- Ya udahlah, coba dibayangkan dan diresapi aja ya. Kalau saya bilang bagus ya percaya ajaaa… Hehe…

Hari 3: Arborek, Sauwandarek, Yenbuba

Hari ke-3 ini kami snorkeling seharian di pulau-pulau sekitar. Tujuan pertama ke desa Arborek. Di sini bawah lautnya bagus, ada schooling fishnya. Kami snorkeling dan loncat-loncat dari dermaga aja.

Speed boat di dermaga Arborek

Speed boat di dermaga Arborek

Para peloncat indah :))

Para peloncat indah :))

Setelah makan siang di Arborek, kami lanjut snorkeling di Sauwandarek. Begitu nyampe sana, dari jauh keliatan awan menggulung hitam dan angin bertiup kencang banget. Naga-naganya akan segera badai -_- Bener lah ga lama kemudian hujan gede juga turun.

Badai di Sauwandarek

Badai di Sauwandarek

Setelah angin dan hujannya agak mendingan, nyeburlah kami semua. Ternyata di dalam air visibilitynya bagus. Di sini coralnya rapat-rapat, dan kami langsung disambut ikan bermata gede (ga tau apaan, warnanya kuning dan badannya agak pipih kayak anglefish tapi lumayan gede). Di bawah kaki jetty ada schooling jackfish buanyak bener… Setelah itu agak jauh dari dermaga ketemu penyu. Ikan-ikan yang seliweran deket sini ukurannya gede-gede loh, hampir segede Napoleon, bergerombol pula. Trus… pas liat ke bawah, keliatan di kedalaman sana ada 3 ekor hiu lewat. Huwooo… entah lagi beruntung atau apa, tapi ini dia spot snorkeling terbaik yang pernah saya sambangin 😀

Abis dari Sauwandarek, kami snorkeling di Yenbuba. Di sini bagus juga, tapi saya belum bisa move on dari kerennya Sauwandarek, jadi ga terlalu lama nyeburnya 😛

Rame-rame di dermaga Yenbuba

Rame-rame di dermaga Yenbuba

Hari 4: Raja Ampat Dive Lodge, Pasir Timbul, Waiwo Dive Resort

Pagi-pagi kami check out dari Kobe Oser homestay dan capcus untuk island hopping dan sedikit liat-liat resort. Tujuan pertama ke Raja Ampat Dive Lodge yang ada di pulau Mansuar. Di sini bisa snorkeling di depan dermaga resort, tapi kami semua keliling resort aja, kecuali satu teman kami yang tetep snorkeling. Biasanya saya juga semangat nyebur sih, tapi waktu itu entah kenapa agak males nyebur kalo ga sebagus Sauwandarek… beneran susah move on xD Walaupun ga nyebur, kami sempat liat ada honeycomb moray eel “bersarang” di perairan dangkal dekat pintu masuk resort.

Mejeng di depan Raja Ampat Dive Lodge

Mejeng di depan Raja Ampat Dive Lodge

Numpang duduk :P

Numpang duduk 😛

Dari resort kami lanjut ke daerah Kri. Di depan Mangkur Kodon homestay ada hamparan pasir kece buat leyeh-leyeh.

Pose wajib rombongan

Pose wajib rombongan

We are the champion my friend

We are the champion my friend

Setelah itu kami pergi ke pasir timbul alias gusung yang saya lupa nama daerahnya 😛 Kalau ga salah Pulau Koh. Di sini kerennya tuh, di depan gusung ada gusung lagi… jadi double gusung! Kami menghabiskan waktu paling lama di sini.

Crystal clear...

Crystal clear…

Merantau versi Raja Ampat

Merantau versi Raja Ampat

Tujuan selanjutnya ke Waiwo Dive Resort. Dari sini sebagian besar rombongan bakal langsung cabut ke Sorong dan beberapa extend stay di Waiwo buat diving. Saya termasuk yang extend diving.

Dermaga Waiwo Dive Resort

Dermaga Waiwo Dive Resort

Waiwo Dive Resort ini milik lokal dan termasuk resort paling murah di Raja Ampat. Rate-nya 600K per orang per malam. Sekitar resort masih kayak hutan, dan kami kebagian kamar yang lumayan baru tapi letaknya agak belakang. Waktu malam-malam keluar kamar menuju restoran sempat “dicegat” kepiting besar di tengah jalan. Sempat liat ular kecil juga xD Dan yang unyu malam-malam di pantai depan restoran banyak kepiting kecil keluar. Satu komplain saya buat resort ini yaitu pelayanannya agak lambat, karena entah kenapa staffnya sedikit sekali (in fact saya cuma ingat 2?? xD). Kayak one-man show gitu… yang jaga di resepsionis, yang ngurusin problem teknis di kamar, yang koordinasiin jadwal diving, yang ngambil dan nganter pesanan di restoran… semuanya dikerjain satu orang. Semoga sekarang udah nambah deh staffnya, dan orang tadi itu cepet jadi boss. Hehe…

Hari 5: Diving di Friwen Bonda dan Mioskon

Diving lewat Waiwo Dive Resort biayanya 600K per dive untuk yang licensed, termasuk alat lengkap. Karena ga ada booties ukuran kaki Cinderella saya, jadi saya pakenya fin kecil yang buat snorkeling. Saya udah pernah denger kalo di Raja Ampat ini spotnya rata-rata lumayan berarus. Makin berarus, makin bagus bawah lautnya. Jadi rada khawatir juga pake fin imut gitu, tapi mau gimana lagi. Kata dive guidenya, “Sudah, nanti kamu nempel sama saya!” Hehe…

Rencananya diving dari pagi, tapi karena kapalnya rusak baru bisa berangkat siang. Asalnya kami mau dibawa ke daerah Kri, tapi karena pake kapal darurat yang jalannya lambat, kami cuma bisa ke spot yang ga terlalu jauh. Jadi dibawalah kami ke Friwen Bonda. Di hari pertama kami sempat ke sini juga tapi cuma snorkeling. Kesan saya waktu turun di sini adalah… sepiii 😐 Iya coralnya bagus, bahkan ada suatu daerah yang cantik banget di mana bertebaran giant sea fan di mana-mana (sebenarnya bagus buat background foto narsis), tapi jarang ada schooling fish. Yang saya ingat di sini banyaknya makhluk kecil seperti macam-macam nudibranch dan pigmy seahorse. Berhubung mata saya jereng jadinya kurang menikmati diving seperti ini.

Istirahat di Mioskon

Karena ga ada poto underwater, pajang poto istirahat di Mioskon

Doggy pun leyeh-leyeh

Doggy pun leyeh-leyeh

Diving kedua di Mioskon beda banget sama di Friwen Bonda. Begitu turun di sini langsung disambut sama berbagai schooling fish. Gilee ini bener-bener kayak di video BBC atau Natgeo gitu… Coral-coral cantik + ikan-ikan berseliweran tanpa henti. Kayaknya ikan di sini ga biasa pergi-pergi sendirian. Mau ukurannya kecil atau lumayan gede, kebanyakan berenangnya pada bergerombol. Sempat liat suatu tempat yang bawahnya cuma pasir… eh ternyata di pasir tersebut juga ada belasan pari berkamuflase! Satu lagi yang spesial di sini, kami beberapa kali ketemu sama spesies endemik Raja Ampat yaitu hiu karpet aka wobbegong. Ternyata dari dekat mukanya lucu dan ukurannya lumayan besar.

Hari 6: Waisai – Sorong

Paginya sempat pengen ikutan rombongan diving yang pergi ke spot Manta, tapi waktunya ga keburu karena kami harus balik ke Sorong siangnya. Huhu.. gpp deh seenggaknya udah diving di Mioskon. Kapan-kapan pengen balik lagi deh bawa kamera underwater *biar eksis.

Kami balik ke Sorong naik kapal cepat. Harga tiket kapal ke Sorong kalau ga salah yang ekonomi 110K dan yang VIP 180K (sori udah lamaa hehe). Ruangan VIPnya biasa lah ada AC, tempat duduk mayan empuk, dan karaoke/DVD. Perjalanannya sekira 2 jam sampai ke pelabuhan di Sorong.

Bye Raja Ampat!

Bye Raja Ampat!

Di Sorong kami menginap semalam dulu sebelum ikut penerbangan pulang besok paginya. Sekian deh yang bisa saya tulis soal jalan-jalan pertama ke Raja Ampat ini. Selanjutnya kalau sempat (kalau niat sih sebenernya haha…) saya bakal tulis tentang jalan-jalan kedua kalinya ke Raja Ampat, yaitu ke daerah Misool di bagian selatan.

Rame-Rame ke Raja Ampat (Bag 2)

Kegiatan kami waktu pertama ke Raja Ampat ini island hopping, snorkeling, trekking, diving, dan ada sedikit excursion ke resort. Memang itinerarynya ga khusus diving, tapi tetep asik terutama buat yang baru pertama ke Raja Ampat karena bisa liat dan coba banyak hal di sana 🙂

  • Hari 1: Mioskon, Friwen Bonda, Teluk Kabui
  • Hari 2: Trekking Wayag
  • Hari 3: Arborek, Sauwanderek, Yenbuba
  • Hari 4: Raja Ampat Dive Lodge, Pasir Timbul, Waiwo Dive Resort
  • Hari 5: Diving di Friwen Bonda dan Mioskon
  • Hari 6: Waisai – Sorong

Hari 1: Mioskon, Friwen Bonda, Teluk Kabui

Kami ambil penerbangan Jakarta – Sorong via Makassar pake Garuda, berangkatnya malam dan nyampe jam 6.30 pagi. Setelah sampai di bandara Domine Eduard Osok Sorong, langsung deh capcus ke dermaga bareng rombongan. Kami ke Raja Ampat pake speedboat carteran, jadi rencananya langsung island hopping ga perlu singgah di Waisai dulu. Perjalanan dari Sorong ke pulau pertama tujuan kami kalau ga salah sekira 2.5 jam. Waktu ini benar-benar saya manfaatkan buat tidur. Haha…

Mioskon

Pulau pertama yang kami kunjungi namanya Mioskon. Nyampe sini masih kleyengan karena baru bangun tidur. Perasaan masih kayak ke Pulau Seribu cuma lebih bagus haha… Hari pertama ini selow aja… Di sini cuma duduk-duduk dan keliling bentar liat pemandangan.

Pulau Mioskon

Pulau Mioskon

mioskon2

Selow kayak di pulau

Friwen Bonda

Ga jauh dari Mioskon ada Friwen Bonda. Kami snorkeling di sini dilanjut makan siang di pantainya. Emang lah pantai di sini halus banget pasirnya. Bersih-bersih pula. Oiya snorkeling di spot ini menurut saya bagus-bagus aja tapi bukan the best. Subur banget sih coralnya, tapi untuk ukuran Raja Ampat ya masih kurang warna-warni dan kurang banyak ikannya. Kok jadi demanding gini yah wkkk… Jadi di mana yang bagus banget? Tetap ikuti postingan selanjutnya…

Friwen Bonda

Friwen Bonda

Teluk Kabui

Sebelum ke Raja Ampat udah beberapa kali liat keindahan Teluk Kabui ini di tipi. Jadi dia itu kayak ada passage yang diapit pulau-pulau karang, dengan air yang biru dan tenang. Di sini lewat aja karena ga ada spot snorkeling, tapi kalau saya pergi sendiri sih rasanya pengen minta kapalnya berenti trus nyebur kecipak-kecipuk aja gitu. Hihi… Ga papa lah, karena dari sini kami menuju ke tempat yang lebih indah lagi yaitu… Wayag!

Teluk Kabui, airnya mengundang sekali

Teluk Kabui, airnya mengundang sekali

Wayag

Wayag letaknya hampir paling utara Raja Ampat. Daerah ini emang terkenal indah tapi jauuuh. Well, 3 jam dengan speedboat sebenernya ga lama sih… tapi perjalanannya membelah rough sea, jadi sepanjang jalan kapal ajrut-ajrutan sampe pantat kebanting-banting. Hehe…  But I’m not complaining… Semuanya terbayar begitu sampai di sana.

Dermaga KKLD

Dermaga KKLD

KKLD Kawe

KKLD Kawe

Di daerah Wayag ini kayaknya ga ada penginapan ya, cuma ada 1 tempat numpang nginap yaitu di balai KKLD (Kawasan Konservasi Laut Daerah). Memang tempatnya sederhana sekali, tapi ini di Wayag gitu loh 😀 Di depan dermaganya kita bisa snorkeling liat beberapa kima raksasa dan kadang lewat hiu black tip. Btw ini yang bikin agak nyesek sih, karena ketemu hiunya lumayan deket tapi ga ada kamera underwater. Huhu… Biarlah itu jadi kenangan manis saya dan si hiu saja *naoon.

Malamnya setelah makan, kami leyeh-leyeh di dermaga. Keren banget lah pemandangannya liat landscape Wayag malam hari dan bintang-bintang bertaburan gitu, kayak mimpi :’)

Wayag di malam hari

Wayag di malam hari

Dua sejoli di dermaga

Dua sejoli liat bintang di dermaga

Setelah puas nikmatin pemandangan, langsung pergi tidur karena besoknya mau naik-naik ke puncak Wayag.

Hari 2: Trekking Wayag

Pagi-pagi setelah sarapan Indomie rasa “spesial” (saya yakin rombongan trip masih pada inget spesialnya kenapa wkk…) kami berangkat mau trekking ke puncak Wayag. Wayag ini terdiri dari gugusan karst yang tinggi, dan beberapa sudah bisa didaki. Selama trekking ini kita bakal banyak manjat karang. Tempat yang umum buat jadi view point ada 2, disebutnya Pos 1 dan Pos 2. Btw ke Wayag ini saya rada-rada bingung kostumnya. Mau pake kostum mendaki tapi ga enak kalau setelahnya mau leyeh-leyeh di pantai. Mau pake kostum mantai tapi nanti kaki baret-baret pas mendaki 😛 Penting amat ya haha… Tapi ga tau kenapa ujung-ujungnya pake setelan mall biasa aja wkkk… Yang penting pake sepatu yang kuat. Paling mantep sih sebenernya pake sepatu/sendal gunung yang anti selip, jangan pake crocs apalagi sendal jepit… niscaya ancur dipake di medan kayak gitu xD

Menuju Wayag Pos 1, rada mendung tapi tetap cantik

Menuju Wayag Pos 1, rada mendung tapi tetap cantik

Rada mendung tapi tetap cantik juga... orangnya *smacked

Rada mendung tapi tetap cantik juga… orangnya *smacked

Pos 1

Dari KKLD ke starting point Pos 1 ga lama naik speedboat, 5-10 menit aja kayaknya. Startnya dari pinggir pantai (btw pantainya juga keren banget). Awal-awal medannya seperti menanjak di tengah hutan, tapi di tengah-tengah makin curam sampai kita harus manjat karangnya. Dibilang susah sih ngga, tapi memang kitanya harus fit dan hati-hati. Sampai puncaknya ternyata ga sesempit yang dibayangkan. Hehe… Enough spaces for everybody kok… Dan pemandangannya menakjubkan!

Pemandangan dari Pos 1 Wayag

Pemandangan dari Pos 1 Wayag

Wajib narsis di puncak Wayag :P

Wajib narsis di puncak Wayag 😛

Pos 2

Setelah turun dari Pos 1 kami menuju Pos 2. Kali ini startingnya ga dari pantai, tapi langsung loncat dari boat ke karang. Di sini medannya lebih curam dari yang pertama. Menurut saya sih jadi lebih cepat pas naiknya, tapi pas turun jadinya lebih lama karena mesti nemplok kayak cicak :p Pemandangan di sini bahkan lebih bagus dari yang pertama.

Pemandangan dari Pos 2 Wayag

Pemandangan dari Pos 2 Wayag

Another great view

Another great view

Btw kami kira para ABK yang orang Papua udah biasa banget liat pemandangan gini. Eh ternyata pas rombongan trip poto-poto, mereka juga narsis-narsisan lho. Haha…

Para ABK dan ABK wannabe :D

Para ABK dan seorang ABK wannabe 😀

Setelah puas-puasin liat pemandangan (dan narsis) di Wayag, kami balik ke balai buat makan siang dan siap-siap meninggalkan Wayag. Kami berlayar menempuh perjalanan 3 jam kembali ke arah selatan.

Kobe Oser Homestay

Setelah semalam di Wayag, kami pindah penginapan ke Kobe Oser Homestay di Yenwaupnor. Mungkin karena sebelumnya nginap di balai, pas liat tempat ini jadi berasa mewah banget. Hehe… Tapi emang tempatnya bagus sih, kesannya rustic tapi romantis gitu 😛

Penginapan Kobe Oser

Penginapan Kobe Oser

Kamarnya di atas laut dangkal, dan di bawah kamar keliatan banyak kima gede dan ikan-ikan kecil. Sempat liat kalabia alias hiu bambu juga di sini.

Kalabia aka Hiu Bambu

Kalabia aka Hiu Bambu

Btw itu gambarnya diambil sama suami dari atas air pada malam hari loh… Keren khaan… (ga apa-apa sesekali muji suami sendiri, daripada muji suami orang?)

Besoknya kami bakal snorkeling di pulau-pulau sekitarnya… (bersambung ke Bag 3)