Afrika Selatan

Safari Sehari di Pilanesberg

Kalau bayangin liburan di Afrika, yang pertama kepikiran adalah… safari! Di Afrika Selatan, tempat safari yang terkenal itu Kruger National Park. Biasanya orang ikutan safari minimal 4 hari, terus nginepnya di lodge tengah hutan atau camping. Berhubung kemarin saya ke Afsel dalam rangka kerjaan, waktu luangnya cuma ada pas weekend. Jadi cari-cari option safari yang bisa sehari aja. Ternyata ada taman nasional yang cukup dekat dengan Johannesburg, yaitu Pilanesberg National Park. Waktu tempuhnya sekira 2 jam dari Joburg, jadi kita bisa pergi pagi-pagi banget dan balik lagi sorenya.

Untuk ikutan safari, ada banyak operator yang menyediakan trip komplit dengan guide, makan, dan antar jemput dari bandara atau hotel. Masuk ke Pilanesberg National Park sendiri sebenarnya bisa dilakukan secara mandiri. Jadi kalau mau ngider-ngider sendiri, pake mobil sendiri, bisa aja. Tapi… di permit office-nya ada disclaimer kalau segala resiko seperti kecelakaan dan kematian tanggung sendiri. Heuheu… Yah ini berlaku juga buat semua, termasuk yang ikutan trip safari dengan operator. Tapi setidaknya kalau dengan operator kan ada guide yang udah berpengalaman buat meminimalisasi hal-hal yang tidak diinginkan. Yang penting di sini kita mesti bener-bener dengerin arahan dari guide, karena safari di alam liar tentu beda dengan di taman safari (sotoy, padahal belum pernah juga ke taman safari :P)

Safari sehari di Pilanesberg ini terbagi 2 sesi, pagi dan sore. Pagi-pagi safari dengan kendaraan tertutup, dan setelah makan siang, lanjut lagi dengan kendaraan terbuka. Ini beberapa hasil jepretan sesi pagi, tapi jangan harap kualitas majalah travel lah ya xD

Impala

Impala

Boar

Boar

Giraffe

Giraffe

Zebra

Zebra

Wildebeast

Wildebeast

More zebras

More zebras

Beberapa kali liat zebra dan impala bergerombol, tapi susah ya motonya karena mereka ga bisa disuruh diam (ya eyalah… hehe). Yang saya takjub liatnya itu, kalau di kebun binatang liat jerapah cuma satu atau dua, kandangnya sempit pula… di sini bisa liat kawanan jerapah main kejar-kejaran dengan bebas.

Kawanan jerapah berlarian

Kawanan jerapah berlarian

Siangnya kami lunch di salah satu resort yang letaknya sekitar pinggiran taman nasional, dan setelahnya lanjut sesi sore dengan kendaraan terbuka. Guide kami memberikan safety tips, di antaranya kalau lagi ada binatang seperti gajah dekat dengan kendaraan, jangan tiba-tiba berdiri dari tempat duduk karena itu bisa memprovokasinya.

Gajah di pelupuk mata tampak

Gajah di pelupuk mata tampak

Zebras anywhere

Zebras anywhere

Btw kemarin itu di sana rumputnya tinggi-tinggi, ga seperti image safari Afrika yang ada di tivi dengan padang yang agak gersang. Ternyata, paling bagusnya safari ini di musim dingin sekitar Mei-Juni, karena rumputnya pendek dan makanan susah, jadi binatang-binatangnya aktif dan gampang di-spot. Siang itu kebetulan panas banget, jadi binatangnya pada ngadem. Perlu beberapa waktu buat kami akhirnya ketemu rhino.

Rhino ngadem

Rhino ngadem, jaga jarak aman

Katanya binatang yang must-see pas safari itu ada 5, disebutnya Big 5: gajah, singa, leopard, buffalo, dan rhino. Kami cuma nemu 2 (gajah dan rhino), banyaknya zebra dan impala. Tapi lumayan juga sih untuk waktu sehari. Di jalan juga beberapa kali ketemu binatang lucu ini (lucu karena ga lagi gigit :P).

Cute Jackal

Cute Jackal

Pengalaman pertama safari ini menyenangkan juga. Jadi pengen lagi, yang lebih serius gitu minimal 4 hari… terus di tempat yang lebih liar lagi macam Serengeti… Hehe… (mulai ngayal, pecahin celengan ayam). Untuk sekarang sih, seenggaknya saya bisa bilang udah pernah safari di Afrika. Yea, meskipun cuma satu hari 😛

Keliling Johannesburg

Judul yang sangat tidak imajinatif ya. Haha… Jadi ceritanya minggu kemarin saya ada trip kerjaan ke Johannesburg, Afrika Selatan. Bisa dibilang pre-departure trip ini drama banget, mulai dari visa yang ribet sampai suami yang ga rela saya berangkat. Heuheu… Iyes, Johannesburg aka Joburg ini punya reputasi sebagai salah satu kota dengan murder rate tertinggi di dunia. Jadi wajar kalo si suami khawatir. Kalau googling tentang kriminalitas di sana dan dengar cerita orang lokal memang lumayan serem. Saya coba ga paranoid tapi tetap waspada aja. Akhirnya saya bisa sedikit meyakinkan si doski (dan diri sendiri, haha) kalau saya bakalan baik-baik aja karena tinggal di daerah Sandton yang relatif aman dan bakal bareng beberapa kolega di sana.

Tapi tentunya kalau ada kesempatan mengunjungi suatu kota, masa ga keliling-keliling sih. Hehe… Wilayah metropolitan Joburg ini luas banget, jadi ga bisa cover semua dalam beberapa hari. Setelah dapat saran dari orang sana tentang daerah yang aman dan yang ngga, saya dan kolega keliling Joburg juga. Awalnya karena ga banyak waktu kami cuma ke Nelson Mandela Square yang dekat dengan Sandton, diantar taksi hotel. Di sini ada Sandton City, pusat perbelanjaan tempat kami beli souvenir.

Nelson Mandela Square

Nelson Mandela Square

Lalu di akhir pekan setelah urusan kerjaan beres dan ada waktu luang satu hari penuh, kami ikut city tour dengan hop on-hop off bus. Jadi sistemnya ada beberapa bus tour keliling Joburg dan ada beberapa stop di mana penumpang bisa turun (atau tetap lanjut jalan di bus) dan naik lagi ke bus sesuai jadwal. Tournya berawal di Gautrain Park Station. Untuk ke tempat ini, kami naik kereta Gautrain dari Sandton station yang letaknya 2 stop dari Park station.

Gautrain Sandton Station

Gautrain Sandton Station

Setelah sampai di Park station, langsung beli tiket 1-day pass untuk bus tour. Selain dikasih earphone buat dengerin commentary di bus, kami juga dikasih list tempat stop dan jadwal kedatangan bus di masing-masing stop. Interval kedatangan bus beda-beda di tiap stop, sekitar 15-30 menit, jadi kita bisa atur mau stop di mana aja dan berapa lama waktunya supaya sesuai dengan jadwal bus.

Gandhi Square

Gandhi pernah tinggal 21 tahun di Afrika Selatan, jadi beliau termasuk tokoh yang berpengaruh dan disegani di sana. Di sini ada bus station dan tempat makan. Menurut kenalan yang orang Joburg, ini adalah tempat yang kita harus ekstra hati-hati sama barang bawaan. Saya sih ga turun, foto-foto aja dari bus.

Gandhi Square

Gandhi Square

Carlton Centre

Kami turun di Carlton Centre untuk melihat “Top of Africa”. Yeah denger ini yang kebayang mungkin lihat pemandangan savana atau gunung dari atas. Maaf mengecewakan Anda. Haha… Top of Africa ini intinya liat pemandangan kota 360 derajat dari gedung tertinggi di Afrika aja sih 😛 Begitu turun bus kami langsung dipandu oleh seorang guide dari bus tour untuk masuk ke Carlton Centre dan beli tiket R15 buat naik ke lantai 50.

Top of Africa

Top of Africa

Di sini guide kami, orang lokal bernama Brian, menjelaskan daerah-daerah dan landmark di Joburg yang keliatan dari atas, seperti stadion bola untuk World Cup, Nelson Mandela Bridge, dsb. Kalau lihat dari atas, beberapa titik Joburg ini tampak bopeng karena dulunya mine site. Dia juga menunjukkan beberapa daerah seperti Soweto, daerah dengan populasi orang lokal terbesar yang juga merupakan tempat tinggalnya, juga daerah seperti Hillbrow yang didominasi imigran dari seluruh Afrika. Saran si Brian ini, “Please, please… don’t go to Hillbrow. Just. Don’t.” Ya silakan googling kenapa xD

Apartheid Museum

Dari Carlton Centre, bus kami sempat berhenti di James Hall Transport Museum (tapi ga ada yang turun, mungkin hanya orang seperti Sheldon yang berminat :P) dan Gold Reef City, tempat theme park dan casino yang dari luar tampak sepi. Kami ga turun juga dan lanjut ke Apartheid Museum yang ga jauh dari situ.

Masuk ke museum ini biayanya R70, tapi kalau punya tiket bus tour jadi R55 aja. Lucunya di sini tiket di-generate secara random dengan tulisan “Whites” atau “Non-Whites”, jadi kita masuk ke pintu yang sesuai tiket. Saya dapetnya sesuai kenyataan sih: Non-Whites 😛

Karena belum seputih Siwon, maka harus masuk lewat Non-White xD

Karena belum seputih Siwon, maka harus masuk lewat Non-Whites xD

Di dalam Apartheid Museum

Inside Apartheid Museum

Di dalam museum banyak cerita sejarah Afrika Selatan, terutama tentang Nelson Mandela. Ada memorabilia seperti jurnal dan foto-fotonya (sayangnya di bagian ini ga boleh foto). Ada salah satu sejarah Mandela yang berhubungan dengan Indonesia. Jadi selama Mandela menjabat sebagai presiden, dia lebih suka pakai “bright and colorful shirts” yang dikasih sama Presiden Soeharto waktu berkunjung ke Indonesia, daripada pakai jas. Waktu ditanya kenapa, dijawab karena beliau sudah kelamaan di penjara dan ingin merasakan kebebasan… Yes, batik for freedom! 😀

Newton Precinct

Pemberhentian selanjutnya di Newton Precinct ada beberapa museum dan salah satunya adalah The World of Beer 😛 Awalnya salah seorang kolega yang orang Aussie semangat banget ke sini, tapi begitu nyampe niat kami berubah jadi cari makan karena udah terlanjur lapar. Hehe…

The World of Beer, numpang lewat doang :P

The World of Beer, numpang lewat doang 😛

Oiya walaupun dengan bus tour ini kita bebas naik turun di tempat pemberhentian, tapi ga di semua tempat kita bisa bebas keluyuran sendirian. Contohnya di Newton, begitu turun kami langsung disambut guide dari bus tour yang tugasnya mengantar kami ke museum-museum. Waktu kami bilang cuma mau cari makan, dia minta kami makan di restoran seberang, dan ga pergi terlalu jauh. Sayangnya restoran yang ada di sekitar situ lagi ga menyediakan menu vegetarian (kolega saya satunya lagi orang India), jadi kami ga jadi makan dan mati gaya kelaparan nunggu bus selanjutnya. Salah satu teman jalan saya jadi rada senewen karena ga diijinkan pergi jauh-jauh buat cari restoran lain, tapi saya ngerti sih si guide itu menjalankan tugasnya buat memastikan keselamatan pengunjungnya.

Braamfontein

Setelah sedikit drama di Newton, kami disarankan untuk turun di daerah Braamfontein karena di sini banyak tempat makan. Di antara daerah yang sudah kami kunjungi, ini favorit saya karena begitu vibrant dan colorful. Banyak anak gaul dan banyak cafe yang hip.

Braamfontein

Braamfontein

The Grove

The Grove

Katanya dulunya daerah ini seperti Hillbrow yang shady dan tingkat kriminalitasnya tinggi, tapi sudah direvitalisasi jadi daerah yang nyaman dan artsy. Walaupun saya kurang tau juga ya, kalau tinggal di hotel sekitar sini beneran aman atau ga. Hehe… tapi dari pengalaman nongkrong di sana sih asik-asik aja.

Constitution Hill

Tujuan terakhir kami ke Constitution Hill, yang dulunya adalah kompleks penjara tempat Mandela dan Gandhi ditahan. Kompleks bangunannya cukup luas dan terdiri dari beberapa museum. Kalau mau guided tour ke dalam bangunannya bisa sampai 1 jam, jadi kami cuma keliling di luar.

Kayaknya dulunya tempat security

Rampart Walk

Part of Old Fort

Old Fort

Flame of Democracy

The Flame of Democracy

Dari Constitution Hill, bus kami kembali ke Park station dan berakhirlah bus tour sehari ini. Eh kalau mau ngulang keliling lagi juga bisa sih. Hehe… Sebenernya city tour ini bisa diextend sama Soweto tour yang cukup populer, tapi lumayan banget loh ternyata keliling tempat-tempat itu aja selesainya udah sore banget.

So, aman ga Joburg? Hehe… Sejauh ini menurut saya selama kita dengerin nasehat orang lokal untuk menghindari daerah tertentu dan ga keluyuran sendirian apalagi malam-malam, ya aman-aman aja. Ga perlu lah menguji jiwa petualang dengan kelayapan ke tempat-tempat yang sudah terkenal shady (orang lokal pasti menganggap Anda gila xD) Bus tour ini lumayan bagus buat yang mau liat highlight Joburg dengan relatif aman dan nyaman.