Pendakian Singkat di Daedunsan

Kembali ke postingan Korea, kali ini saya akan share pengalaman saya ke salah satu gunung di sana yaitu Daedunsan. Gunung Daedun ini ga begitu terkenal, bahkan seorang anak muda Korea yang saya temui di Hongdae aja ga tau :)) tapi bukan berarti ga bagus. Saya memutuskan ke sini setelah riset (halah) tentang tanggal peak autumn di gunung-gunung Korea. Untuk musim gugur, yang paling terkenal itu Soeraksan dan Naejangsan. Sayangnya peak autumn Seoraksan itu awal 20an Oktober dan Naejangsan sekitar belasan November, sedangkan saya datang sekitar akhir Oktober dan awal November. Saya emang rada perfeksionis soal tanggal-tanggalan gini :)) Baca-baca, yang peaknya sekitar awal November itu Daedunsan, jadi cuss deh ke sana.

Daedunsan ini adanya di provinsi Jeolla dan perjalannnya sekitar 3,5 jam dari Seoul. Sebenarnya sebelumnya saya sempat ke Jeonju, dan harusnya ke Daedunsan itu lebih dekat dari Jeonju, tapi waktu itu belum punya rencana fix buat mengunjungi gunung, jadinya cuma santai di Jeonju semalam dan besoknya balik ke Seoul. Dari Seoul agak sulit ke Daedunsan sendirian. Katanya sih bisa pakai transportasi publik lewat Daejeon, tapi harus ganti kendaraan 3 kali, plus masih harus jalan 20 menit lagi. Jadinya saya cari operator yang menyediakan transportasi direct ke sana dari Seoul. Dari yang bisa saya temukan online, tampaknya cuma ada 1 operator yang bikin day trip dari Seoul ke sini yaitu KTour Story. Agen booking-nya sih banyak, tapi setelah liat detailnya, ujung-ujungnya operatornya tetap KTour Story. Paket day trip ini lebih ke transportasi, tiket, dan handler aja karena mendakinya sih tetap mandiri.

Di hari-H kumpul pagi buta di meeting point Hongdae untuk naik busnya. Perjalanannya cukup nyaman, dan busnya berhenti 1 kali untuk istirahat. Sampai di parkiran bus Daedunsan, kami dibriefing soal jalur hikingnya. Ada 2 ikon yang terkenal di sini yaitu jembatan gantung sepanjang 50 meter yang disebut Geumgang Bridge dan tangga besi curam sebanyak 127 anak tangga yang disebut Samseon Stairway. Untuk memulai hiking, bisa dilakukan benar-benar dari bawah dengan jalur tangga stainless steel atau dari upper cable car station. Untuk day tripper, pilihan yang populer adalah naik cable car dari bawah dan mulai hiking dari upper station. Ini dilakukan untuk menghemat waktu, karena makin siang, jembatan dan tangganya makin rame. Selain itu pemandangan dari cable car juga keren di musim gugur gitu, jadi sayang untuk dilewatkan… kecuali kalian memang maniak hiking banget harus lewat tangga :))

Pemandangan dari cable car

Oh iya yang mungkin agak tidak terduga, jalan dari parkiran bus ke lower cable car station aja ternyata nanjaknya ga santai. Haha… Saya sih ga begitu kaget karena pas di Seoul sempat ke beberapa area yang nanjaknya curam gitu seperti Haneul Park, tapi beberapa peserta di bus baru sampai ke stasiun cable car ini udah ngos-ngosan. Untungnya saya sudah makan chicken teokgalbi di tempat peristirahatan bus jadi ada tenaga xD Setelah naik cable car, kami sampai di observatory dan memulai pendakiannya.

Starting point setelah cable car
Jalur hiking dengan tangga stainless steel

Jalur-jalur awal ini banyaknya tangga stainless steel aja. Meskipun cuma tangga, mesti tetap hati-hati karena kadang licin dan kita bisa tergelincir. Ini terjadi sama seorang bapak di depan saya yang tau-tau jatuh bergedebuk gitu (untung jatuhnya tidak terlalu jauh). Setelah tangga demi tangga, ada semacam pos peristirahatan yang saya liat banyak ahjumma dan ahjussi nongrong di sini hehe… Saya sih langsung lanjut aja karena tidak jauh dari sini ada jembatan gantung.

Bisa istirahat di sini

Sampailah di spot Instagram pertama yaitu Geumgang Bridge atau Cloud Bridge. Karena sudah agak siang, kondisi jembatannya cukup rame, termasuk sama orang-orang yang mau foto-foto. Ada seorang cewe Korea di depan saya yang jalan gemetaran di tengah jembatan sambil bilang “Museowo! Museowo!” (“Serem!”) tapi tetep lanjut foto-foto :))

Geumgang Bridge
Menyeberangi jembatan

Memang katanya buat orang yang takut ketinggian, jembatan ini bisa untuk memicu adrenalin, tapi buat yang tidak begitu takut termasuk saya sih biasa aja. Yang “menarik” justru orang-orang yang teriak-teriak ini. Hehe…

Down below

Setelah menyeberangi jembatan, masih ada beberapa jalur hiking yang mesti ditempuh sebelum akhirnya ke spot Instagram kedua 😛 yaitu Samseon Stairway.

Pemandangan dari dekat Samseon Stairway

Untuk yang takut ketinggian, di sini akan lebih diuji lagi karena tangganya cukup curam. Apalagi kondisinya lagi rame gitu, waktu naik kadang macet dan bergoyang-goyang. Ternyata beberapa pendaki ada juga yang ga lewat sini tapi ambil jalur lain yang agak lebih jauh tapi lebih landai.

Samseon Stairway

Waktu naik tangganya ga bisa banyak stop foto-foto, karena pendaki lain di belakang juga pengen cepat-cepat sampai. Hehe… tapi tetap sempat dapat foto juga dari atas tangga. Keliatan ga, itu di belakang yang tampak kecil itu jembatan gantungnya?

Menaiki tangga curam
Pemandangan dari puncak Samseon

Sampai puncak tangganya, ternyata tempatnya sempit. Ga bisa foto narsis deh :)) Dari sini bisa turun memutar untuk kembali ke observatory, atau meneruskan perjalanan ke Macheondae peak, yaitu puncak Daedunsan yang ada monumennya. Sampai ke puncak ini sih katanya naiknya cepat cuma sekitar 10 menit, tapi turunnya lumayan sulit. Karena pertimbangan waktu, di tengah jalan mau ke Macheondae saya balik aja turun. Takutnya nanti pas busnya nungguin pulang sayanya masih stuck ga bisa turun haha… (ini keputusan yang saya sesali belakangan).

Turun dari Samseon

Jalur memutar untuk turun ini adalah jalan yang sama dengan jalur para pendaki yang mau naik tanpa lewat Samseon. Di sini tangganya berupa tangga kayu yang lebih landai dan mudah.

Tangga kayu yang lebih mudah

Jalur hiking di Daedunsan ini tidak cuma tangga-tangga, ada juga yang masih berupa batu-batu, tapi umumnya selalu ada railing di sisinya. Beda sekali kan dengan trekking di Wayag atau Pulau Kelor yang benar-benar natural dan kalau jatoh ya jatoh aja gitu ^_^;

Jalur trekking

Setelah sampai kembali di observatory, handler-nya kaget kok cepet banget, karena yang lain belum balik xD Yah nyesel kirain bakal telat, tau gitu tadi lanjutin ke monumen. Tapi belakangan jadi tau kalau dari semua orang di bus, cuma 2 orang aja yang sampai ke monumen. Ya udah ga nyesek amat sih jadinya, haha… yang penting udah ke Samseon Stairway.

Btw kalau ga suka hiking, dari tempat peristirahatan dekat upper cable car station juga bisa liat pemandangan bukit granit yang keren. Kadang keliatan ada yang rock climbing di sini.

Pemandangan bukit granit
Pemandangan dekat cable car station

Karena selesainya kecepetan, saya turun duluan aja buat cari makan di bawah. Ternyata di daerah dekat lower cable car station ada jalan menanjak dengan pemandangan musim gugur yang keren juga, malah lebih berwarna-warni daripada di atas :)) Jadi kayaknya saya datang sedikit telat dibanding peak autumnnya. Di atas sudah banyak yang rontok sedangkan di bawah lagi merah-merahnya.

Daerah dekat cafe
Setelah jalan menanjak sedikit
Warna merah musim gugur

Selama hiking ini, ada yang bikin saya iri yaitu banyaknya orang-orang tua yang datang rekreasi bersama teman-temannya. Di Indonesia mungkin agak sulit membayangkan geng ibu-ibu wisata ke gunung dan mendaki (bukan botram aja :P) Bukan berarti ibu-ibu Indonesia kurang bugar juga sih, cuma mendaki gunung untuk rekreasi di Indo memang tidak semudah di Korea yang banyak fasilitas dan jalur yang memadai. Saya sih jadi bayangin dan berharap kalau tua nanti bakal punya teman geng ibu-ibu yang bisa diajak snorkeling rutin aja. Haha…

Hiking bersama teman-teman ahjumma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s