Seribu Alasan Berkunjung ke Bosnia-Herzegovina

Nulis blog aja malas-malasan, sekarang mau nulis seribu poin? Hehe iya deh ga mungkin seribu, tapi yang pasti ada beberapa alasan yang cukup oke untuk memasukkan Bosnia-Herzegovina ke dalam travel list kalian. Eh saya tulis Bosnia aja untuk merujuk ke nama negaranya ya, walaupun sebenarnya Bosnia dan Herzegovina itu merupakan dua region berbeda yang membentuk negaranya. Jujur, waktu saya pergi trip ke Balkan, saya ga berharap banyak sama Bosnia. Saya pikir Dubrovnik bakal jadi highlight tripnya karena saya suka Game of Thrones, tapi kenyataannya bagi saya trip ke Dubrovnik malah jadi biasa saja. Yang paling saya suka itu Kotor di Montenegro (pernah saya tulis di postingan lain) dan juga Sarajevo dan Mostar di Bosnia. Sebenarnya ga lama juga sih saya di Bosnia, hanya total 3 malam, tapi cukup berkesan. Bukan cuma saya, teman-teman saya juga merasakan hal yang sama.

Mostar, Bosnia

Jadi, apa saja alasan untuk ke Bosnia?

Sejarah yang Familiar

Anak-anak Indonesia yang besar di tahun 90an kemungkinan besar pernah mendengar soal Perang Bosnia. Saya sendiri bukan penggemar sejarah dalam arti sejarah kerajaan-kerajaan, tapi saya cukup familiar dengan sejarah perang modern seperti perpecahan Yugoslavia. Ingat juga waktu masih kecil, di Dunia Dalam Berita cukup sering ditayangkan berita mengenai perang di Bosnia. Karena perang ini, banyak juga yang khawatir pergi ke Bosnia karena pikirnya negara ini masih dalam konflik. Padahal, perang sudah selesai cukup lama dan sekarang Bosnia sudah jadi negara yang aman dan damai. Tempat-tempat bersejarah pun dipugar dan jadi tempat pariwisata yang cukup kece. Setidaknya kalau saya bandingkan Belgrade ibukota Serbia dan Sarajevo ibukota Bosnia, kehancuran bekas perang masih lebih terasa di Belgrade.

Sudut kota di Sarajevo

Di kota-kota seperti Sarajevo dan Mostar, bekas perang secara fisik sudah tidak terlalu terasa. Meski begitu, orang Bosnia menolak lupa tentang perang dan pembantaian yang terjadi di sana. Di Sarajevo ada yang namanya “Sarajevo Rose”, yaitu bekas-bekas ledakan di beton yang dicat merah sehingga seperti gambar bunga. Di Mostar, ada batu bertuliskan “Don’t Forget ’93” yang merujuk pada tahun saat old bridge di sana dihancurkan oleh militer Kroasia.

Don’t Forget ’93

Tentunya ada juga beberapa museum perang di kota-kota tersebut. Saya sendiri sempat berkunjung ke Museum of Crimes against Humanity and Genocide di Sarajevo. Ya ya, penggunaan kata genosida sendiri masih diperdebatkan oleh Serbia, tapi saya ga mau ngomong politik di sini 😛 Buat kalian yang waktu kecilnya biasa mendengar soal Perang Bosnia, di sini bisa lebih mendalami sejarahnya dengan melihat dokumentasi perang dan cerita-cerita dari para survivor.

Di dalam Museum of Crimes against Humanity and Genocides
Dokumentasi perang

Suasana gloomy memang terasa banget di museumnya, tapi saya sangat merekomendasikan berkunjung ke museum-museum perang ini supaya turis-turis bisa melihat sejarah perang di Bosnia yang mereka ingin dunia tau. Teman saya sempat ke museum perang yang lain yaitu War Childhoold Museum yang juga ada di Sarajevo. Katanya bagus sih, tapi saya sendiri kayaknya ga kuat deh kalau sejarah perangnya udah berhubungan sama anak-anak gitu. Huhu…

Penduduk yang Ramah

Bisa dibilang perjumpaan kami dengan orang-orang di negara Balkan pertama kali meninggalkan kesan yang tidak terlalu bagus. Negara Balkan pertama yang kami kunjungi adalah Serbia, dan entah kami “beruntung” atau apa, banyak hal yang terjadi selama kami di sana.

  • Teman yang nongkrong sendirian di kedai kopi diajakin jalan sama cowok sana. Pas ditolak dengan sopan, cowoknya marah-marah pake kata-kata kasar.
  • Di bus, ada yang marah dan ngelarang kami ngobrol. Kalau kasusnya seperti di Jepang di mana orang-orang emang ga ngobrol di transportasi publik sih ga apa-apa. Lah ini di depannya ada cowo-cowo bule yang berisik tapi mereka boleh ngobrol.
  • Bermula dari insiden teman “tabrakan” sama seorang gypsy di sana, si gypsy ternyata dendam dan tiba-tiba datang lagi ngeludahin salah satu teman kami *horror 😦

Pokoknya benar-benar drama deh, bisa kali dibikin buku. Ada juga sih kisah lucu dan banyak juga orang yang baik, tapi dengan tiga insiden itu aja cukup bikin saya berpikir, “cukup sekali aja ke Serbia deh” kecuali buat kerjaan 😛 Teman saya malah bilang dibayar pun dia ga mau datang lagi.

Datang ke Bosnia rasanya angin segar. Di sini, ga ada yang memandang kami dari kepala sampai kaki seperti di Belgrade. Saya pagi-pagi jalan sendirian di Sarajevo merasa aman, ga ada yang melihat saya dengan tatapan berbeda. Mungkin karena salah satu kantor PBB ada di Sarajevo, jadi mereka sudah biasa melihat wajah yang asing. Katanya turis dari Malaysia juga udah banyak yang ke Bosnia, jadi mungkin juga mereka udah biasa dengan tampang Asia.

Jalan-jalan di kota tua Sarajevo

Orang-orangnya pun ramah. Waktu kami jalan-jalan di Bascarsija, kota tuanya Sarajevo, orang lokal yang nongkrong di sana ga ragu menyapa dan mengajak ngobrol dengan ramah, tanya-tanya dari mana, dan juga memuji gaya hijab salah satu teman saya yang ala-ala Dian Pelangi :))

“Dian Pelangi” di Bosnia :))
Toko-toko souvenir di Bascarsija

Pernah juga kami malam-malam mau liat jembatan tua ikon kota Mostar dari pelataran sebuah masjid, tapi ternyata udah tutup. Bapak tua penjaga mesjidnya mungkin kasian dan mengijinkan kami masuk dengan gratis (kalau siang harus bayar). “Tapi nanti liat-liat lapak saya ya” begitu kira-kira katanya :)) Ternyata dagangannya bagus-bagus dan murah juga. Soalnya murahnya ini akan saya tulis di poin selanjutnya.

Dapat shot keren berkat si bapak :’)

Harga-Harga yang Murah

Biasanya sih, semurah-murahnya Eropa itu masih ukuran mahal buat turis Indo, tapi di sini harga-harga sama murahnya dengan di Indo. Iyes, beneran, ga boong! 😀 Kurs BAM (Bosnian Mark) biasanya stabil di 1 EUR = 1.95 BAM, tapi meskipun Euro lagi naik, harga-harga tetap murah. Malah untuk jajanan seperti roti, saya rasa dengan kualitas yang lebih bagus, harganya lebih murah daripada di Indo. Belanja di supermarket di Bosnia harganya seperti di Alfamart aja, ga bikin kantong bolong 😛 Jarang-jarang kan ngerasain kayak gini di Eropa. Bahkan Belgrade aja masih sedikit lebih mahal.

Jajan es krim 1 BAM

Suvenir di Bosnia secara tampilan mirip-mirip dengan di Turki, tapi harganya lebih murah. Yeah kalau kalian pikir suvenir Turki murah, coba ke Bosnia. Kami ga belanja terlalu banyak di sini soalnya dibilang suvenir di Turki nanti bagus-bagus dan murah-murah. Tapi ternyata meskipun kami beli suvenir Turki di Sulemaniye (area lokal yang lebih murah dari Sultanahmet di Istanbul) rasanya barang-barang seperti pashmina, keramik, dsb yang kami temui di Mostar masih lebih murah lagi.

Di sebuah toko souvenir di Mostar
Lampu hias ala Ottoman
Sendal-sendal lucu

Kota Tua yang Memesona

Saya pernah bilang kota-kota tua di Balkan itu tampak charming karena mirip setting game RPG :)) Di Sarajevo dan terutama Mostar, ini juga berlaku. Kota tua Mostar areanya kecil tapi cantik. Asik banget berjalan-jalan di sini waktu pagi dan malam hari. Kalau siang emang agak rame yah, karena banyak juga turis yang ke sini day trip dari kota lain seperti Dubrovnik. Gimana pesonanya, saya kasih liat fotonya aja hehe.

Jembatan tua di Mostar
Menyeberangi jembatan
Malam hari ga kalah cantiknya
Sebuah restoran di sudut kota tua

Alam yang Indah

Eits bukan cuma kotanya yang charming, alamnya juga indah. Ada yang bilang alam Bosnia ini seperti versi undeveloped-nya Swiss, dan saya setuju sih. Kalau pergi dari Sarajevo ke Mostar atau dari Kotor ke Sarajevo via darat, kita bisa liat pemandangan desa di Bosnia yang cantik. Beberapa memang mengingatkan saya dengan pemandangan waktu jalan-jalan ke Swiss, tapi ini versi yang lebih rustic.

Pemandangan dari kereta Sarajevo-Mostar
Swiss versi Bosnia?
Beautiful landscape
Itu sinar mataharinya asli, bukan filter :))

Kemudahan Bagi Turis Muslim

Mayoritas orang Bosnia adalah muslim, jadi cari makanan halal atau minimal non-pork dan non-alkohol ga akan susah. Mesjid juga mudah ditemukan, meskipun mungkin agak berbeda dengan mesjid di Indo yang buka sampai 24 jam, tampaknya mesjid di sana jam buka tutupnya lebih sedikit.

Bascarsija Mosque

Lain-Lain yang Unik dari Bosnia

Pernah dengar kalau di Bosnia itu “you’ll find the whitest Muslims on earth” :)) Kalau kalian pikir orang-orang Bosnia itu mirip dengan orang Timur Tengah, ow jauh sekali. Mereka seperti orang kulit putih di Eropa aja, lebih tepatnya mereka itu etnis Bosniak, Serb, dan Croats, dengan mayoritas muslim Bosniak. Meskipun kalian ga akan bertemu perempuan berjilbab sebanyak di Indo (mirip Indo tahun 90an lah), tapi menurut saya perempuan Bosnia yang berjilbab itu unik, karena jarang juga saya liat “orang Barat” di negara lain yang pakai jilbab. Perempuan Bosnia yang cantik itu cantiknya bisa nyaingin artis Hollywood lah, jadi seperti liat artis Hollywood pake jilbab 😀 Saya dan teman-teman sempat melihat penjaja kios yang cantik dan ganteng, dan mau ga mau kami jadi komentar, “Mereka tau ga ya, kalau ke Indonesia mereka bisa jadi artis FTV?”

Hal unik lainnya, buat kalian yang suka koleksi benda antik, di sini bisa beli suvenir barang-barang jadul yang berhubungan dengan Yugoslavia. Di Belgrade banyak juga sih suvenir seperti gantungan kunci atau magnet bertema Yugoslavia dan Tito (sangat cocok buat dikasih ke teman yang susah move on haha…) tapi di Mostar kita bisa nemu penjual barang antik seperti koin dan perangko jaman Yugoslavia, dan tentu saya beli lah!

Di luar hal bagus dan unik yang sudah saya sebutkan, sebenarnya saat ke Bosnia, kami juga melihat negara yang sedang struggling (apa sih bahasa Indo-nya, berjuang? tapi agak aneh :P). Waktu kami dijemput pemilik hostel dari terminal bus dan ngobrol-ngobrol, kami iseng aja nanya apa dia udah pernah ke Indo, dan dia jawab ekonomi Bosnia sedang ga bagus. Dia jarang keluar negeri walaupun cuma ke Eropa (apalagi ke Indo yang jauhnya minta ampun). Pernah baca juga artikel yang bilang 30% pemuda Bosnia itu menganggur. Entah ini datanya masih valid apa ga, tapi memang sampai sekarang tampaknya Bosnia masih masuk negara top 5 termiskin di Eropa. Artinya nambah lagi satu alasan berkunjung ke Bosnia, yaitu membantu perekonomiannya… ya kan? 😉 *klise deh, pinter banget cari alasan… emang ga bisa bantu perekonomian orang-orang di daerah aja? 😛 Tapi serius deh, meski kalau liat foto-foto di Bosnia itu ga se-wow Swiss dan yang lainnya, selama jalan-jalan di sana rasanya hati adem. Sejauh ini Bosnia (dan juga Montenegro) jadi negara terfavorit saya di Eropa.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s