Gagal Jadi Vlogger

Salah satu cara membedakan milenial muda dan milenial tua (iya, saya termasuk milenial tua wkkk) adalah ketertarikan pada Youtube. Milenial tua umumnya suka youtube-an tapi kalau perlu atau iseng saja, sedangkan milenial muda hidup dengan youtube-an. Saya baru sadar betapa besarnya peran Youtube dalam hidup anak muda waktu adik sepupu saya ngomongin soal channel-channel Youtube dan artis-artisnya yang udah dianggap seperti selebritas. Belum lagi banyak juga yang update sekali dengan drama-drama Youtubers dan lain sebagainya. Konon banyak anak muda sekarang juga lebih bercita-cita jadi Youtuber ketimbang jadi insinyur, dokter, dsb.

Karena itu pula, vlog tampaknya sekarang jauh lebih diminati anak muda daripada blog. Kalau ada yang tanya, “Kamu nge-vlog ga?” sudah pasti dia umurnya jauh lebih muda dari saya :)) Ya ga heran juga sih, nge-vlog dan jadi Youtuber itu potensi menghasilkan duitnya jauh lebih besar daripada cuman ngeblog. Apalagi kalau kombinasi jadi seleb sosmed Instagram + Youtube. Beda dengan jaman saya muda dulu di mana seleb blog + Twitter bisa cukup menghasilkan tapi yah sebagian besar hanya dapat respek aja, jadi selebgram dan Youtuber bisa benar-benar bikin orang kaya raya.

Blog saya pernah ditwit seorang selebtwit, tapi dari analytics blog, saya lihat ga ada yang ngeklik dari situ. Sejak itu saya sadar jaman sudah berubah. Seleb blog dan Twitter sudah menjadi remahan rengginang saja xD Belum lagi view blog yang makin lama makin menurun. Yah mungkin juga karena jarang update blog dan postingan yang kurang menarik sih, tapi kalau dibandingkan beberapa tahun lalu yang viewnya selalu stabil atau naik terus walaupun dianggurin, sekarang viewnya benar-benar turun drastis. Memang ga ngaruh juga sih sama kehidupan saya, toh ngeblog memang cuma buat iseng dan berbagi, ga bercita-cita jadi seleb juga hehe. Tapi kadang jadi mikir juga, jaman sekarang masih ada yang baca blog ga sih? :))

Karena itulah saya sempat kepikiran untuk coba nge-vlog. Rasanya ini masuk akal juga, karena belakangan ini saya suka males nulis dan lebih suka foto-foto aja. Ngambil video dan foto ga terlalu jauh bedanya kan? Lagipula camera works saya juga ga terlalu parah kok. Jadi harusnya gampang aja kan beralih jadi vlogger?

Ow tidak semudah itu Pulgoso. Ternyata rasanya beda banget! Kalau saya traveling sambil foto-foto, biasanya pertama saya scan pemandangan dengan mata saya sendiri, dan setelah saya nikmati barulah cari sudut bagus untuk foto. Dan karena saya bukan fotografer serius, fotonya cukup cepat, yang penting bisa men-capture suasana sekitar dengan lumayan akurat aja. Ngedit foto juga cepat, cuma klik klik ngatur brightness dan contrast kalau perlu, ga pernah ngedit sampai bikin tempat yang ramai jadi sepi atau yang kotor jadi bersih :)) Intinya kalau cuma untuk keperluan hobi dan dokumentasi seperti saya, ngambil foto sambil traveling itu ga time-consuming. Kebanyakan waktu kita masih bisa digunakan untuk traveling seperti biasa.

Ngambil video itu ternyata sangat berbeda. Pertama kali coba bikin video traveling waktu liburan keluarga ke Bali. Karena si doi termasuk penggemar fotografi yang rada serius, ngambil videonya sampai pake gimbal segala. Nyampe pantai mau langsung main-main… bentar pasang gimbal dulu. Mau pergi-pergi ke mana… bentar beresin kameranya dulu. Pokoknya itu kamera malah kayak jadi beban. Bawa kamera malah jadi kayak ga menikmati momennya gitu. Sampai saya bilang, udah lah ngapain repot-repot ngambil video, nikmatin aja liburannya! Haha…

Tapi saya masih penasaran. Percobaan kedua waktu liburan keluarga lagi di Lembang. Kali ini mau saya coba pake kamera iPhone aja bikin videonya, kan bagus juga bisa 4K. Jadi ga repot bawa-bawanya. Ternyata tetap aneh rasanya. Ini beda yah dengan ngambil IG story yang cuma 15 detik terus lupakan. Kalau bikin video yang panjang, kita harus menatap layar sepanjang waktu. Yah mungkin ga selalu harus lihat ke layar sih, tapi tetap aja kita harus memastikan video terekam dengan baik, tangan tetap stabil, dsb. Intinya bagi saya bikin video traveling itu seperti pekerjaan full-time :)) Kalau foto-foto (untuk hobi, bukan yang profesional), mungkin hanya sebagian kecil waktu kita benar-benar dihabiskan di belakang viewfinder atau layar. Tapi untuk video, katakanlah video traveling 15 menit, bisa jadi kita habiskan setengah waktu traveling kita untuk ngambil video. Iya ga sih? Haha… Mungkin sayanya aja yang belum sekill (optimis :P), tapi yang saya rasakan ngambil video itu lumayan intrusif terhadap pengalaman traveling. Rasanya jadi ga bisa menikmati secara natural. So yeah… sekarang saya belum ada keinginan buat coba bikin vlog lagi.

Iya, saya jadi berasa tua banget ngomong kayak gini :)) Tapi ini hanya postingan curhatan saja. Hehe… Kalau dari kalian yang baca (hari gini masih baca blog? :P) senang nge-vlog dan ga merasakan yang saya rasakan di atas, boleh bagi-bagi tipsnya supaya traveling tetap enjoyable meskipun sambil nge-vlog šŸ˜€

4 thoughts on “Gagal Jadi Vlogger”

  1. hahaha, ini ungkapan yang ada di hatiku juga. Sungguh ya, setelag keenakan aktif nulis di blog, dan mulai ngevlog, memang dari segi materi lumayan tapi kok aku jadi nggak menikmati travelling karena lebih sibuk nge shoot. hingga akhirnya kau males nulis dan sama, viewer turun drastis hingga 50%. hmmmm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s