Month: September 2014

Rame-Rame ke Raja Ampat (Bag 1)

Akhirnya ke Raja Ampat! *koprol* Sebenernya taun ini ada beberapa trip yang udah lewat lama tapi belum ditulis. Salah satunya trip ke Raja Ampat bulan Januari. Buat diver Indonesia, Raja Ampat ga perlu introduction lah ya… pasti udah pernah ke sana atau lagi pada nabung buat ke sana *saya pun pengen ke sana lagi ikut LOB, heuheu nabung duit dan skill dulu.

Baiklah… sebelum cerita ngapain aja di sana, biasanya waktu orang denger kami ke Raja Ampat ada beberapa pertanyaan yang umum.

Gimana caranya ke sana?

Bandara terdekat dari Raja Ampat adanya di kota Sorong, Papua Barat. Dari Sorong bisa naik kapal cepat umum ke Waisai, ibukotanya Raja Ampat. Dari Waisai sewa kapal buat pergi ke pulau-pulau yang dituju. Atau kalau dengan rombongan bisa juga carter kapal langsung dari Sorong. Tentu carter kapalnya dari jauh-jauh hari.

Kan mahal ya?

Untuk standar liburan di Indonesia sih ya, memang tidak murah. Pertama karena jaraknya emang jauh kalau dari Jakarta. Sama ke Phuket aja jauhan ini lah. Kedua karena Raja Ampat ini pulau-pulaunya tersebar lumayan jauh, jadi mesti sewa kapal lumayan mahal buat keliling pulau-pulau ini. Tau kan kalau bahan bakar di pelosok itu mahal. Bisa aja stay di Waisai sepanjang trip, tapi kayaknya kurang afdol kalau belum mengunjungi pulau-pulau cantik di sekitarnya. Kita bisa menghemat biaya kalau pergi dengan rombongan, jadi bisa sharing cost. Cuma pergi sendiri atau berdua? Sekarang udah ada beberapa EO yang bikin open trip 2-3 kali dalam setaun, jadi 1 orang pun bisa gabung. Contohnya kami ikutan open trip dari @wisatarajaampat. Yeah, dengan sharing cost pun masih lebih murahan ke negara tetangga sih. Tapi percayalah itu memang sebanding dengan keindahannya 🙂

Rombongan Trip

Rombongan Trip bareng @wisatarajaampat

Bisa ngapain aja di sana, selain diving?

Raja Ampat ini identiknya emang buat diving ya, tapi buat yang ga diving juga bagus kok. Selain island hopping dan snorkeling, salah satu tempat yang recommended banget buat dikunjungi adalah Wayag yang letaknya di Raja Ampat bagian utara, sekitar 3 jam perjalanan pake speedboat kalau dari Waisai. Di sini ada gugusan karst yang keren dan kita bisa trekking ke puncaknya. Cuma ya emang ke sini mesti sama rombongan karena sewa kapalnya muahaaal. Di bagian selatan pun katanya bagus-bagus, tapi saya cuma pernah ke utara jadi belum bisa nulis. Hehe…

Wayag

Wayag

Trus nginepnya di mana?

Ada beberapa penginapan dan resort yang tersebar di Raja Ampat. Yang di ibukota tentu lebih murah, tapi yang di pulau-pulau tentu pemandangannya lebih cihuy. Di trip bareng waktu itu kami menginap di KKLD Wayag dan penginapan Kobe Oser di pulau Yenwaupnor. Untuk informasi penginapan-penginapan di Raja Ampat bisa liat di stayrajaampat.com.

Papua aman ga tuh?

Papua itu luas banget lho… Hehe. Yang konflik itu kan biasanya di daerah pedalaman. Sorong ini kota bisnis dan banyak pendatang dari Sulawesi, Jawa, dsb berbaur dengan penduduk lokal. Raja Ampat juga sangat open to tourism, jadi suasananya niscaya kondusif.

Ada yang perlu dipersiapkan ga, minum pil kina gitu?

Hmm… Harusnya begitu ya, tapi kami sih ngga persiapan sampe segitunya dan untungnya baik-baik aja. Hehe… Concern kami yang ga makan seafood lebih ke makannya gimana, karena di sana jarang tersedia protein selain ikan -__- Akhirnya kami bawa beberapa bungkus abon dan sosis untuk asupan protein seminggu. Bahahahaha… Buat yang butuh komunikasi di pulau-pulau jangan lupa bawa hape jadul, karena smartphone Anda akan menjadi dumb phone di sini, susah nangkap sinyal 😀

Okeh, semoga bisa memberikan gambaran tentang cara trip ke Raja Ampat. Kalau masih inget saya sambung detail tripnya di Bagian 2 😛

Advertisements

Perjalanan Pertama ke Wakatobi (Bag 4 – Tamat)

Masih ngutang nulis bagian terakhir trip Wakatobi November taun lalu. Udah lama bener ya haha 😀

Hari 5: Diving di Marimabuk dan Table Coral City

Awalnya kami udah pasrah kalau di trip ini ga bisa diving. Jadi ceritanya karena kesibukan (ciyeeh), kami baru ngurus booking segala macam sekitar 1 minggu sebelumnya. Ada 2 dive center di Tomia… well, asalnya 1 tapi pecah kongsi, jadi Tandiono Dive Center (Pak Ade dkk) dan Tomia Scuba Dive Center (Dr. Yudi). Udah tanya dua-duanya, divingnya pada penuh. Seperti yang dibilang, di sini fasilitas dan DM terbatas, jadi kalau ada 1 rombongan keluarga yang diving aja kita langsung ga kebagian. Eh ternyata malam hari ke-4 kami dapat kabar kalau besoknya bisa diving sama Dr. Yudi. Yaaaay!

Spot diving yang kami kunjungi namanya Marimabuk dan Table Coral City. Diving di 2 spot ini sama-sama bagusss… karang-karangnya jelas tidak mengecewakan (udah bisa diliat waktu snorkeling), juga ketemu penyu, pari, dan schooling ikan ukuran medium. Arusnya kadang tenang kadang lumayan kerasa, baru menjelang akhir penyelaman di Table Coral City kena arus lumayan kencang sampe susah banget majunya. Dr. Yudi sebagai DMnya benar-benar ramah dan sabar. Mungkin karena udah terlatih sebagai dokter ya. Hehe…

Btw di sini pengalaman pertama saya ketemu schooling barracuda. Pernah sih liat great barracuda di Tulamben dan barracuda biasa di Iboih, tapi yang bergerombol baru kali ini. Ngeliatnya takjub tapi deg-degan juga awalnya 😀 Yang di bawah ini foto barracuda di Table Coral City. Yang di Marimabuk sebenernya lebih gede-gede dan banyak, tapi gambarnya ngeblur 😛

The Barracudas

The Barracudas

Penyu parkir di karang

Penyu parkir di karang

Ikan-ikan berseliweran

Ikan-ikan berseliweran

Eh ikan-ikan ini kalau di foto keliatannya kecil padahal aslinya medium… coba bandingkan sama coral di bawahnya. Dan berhubung peralatan memotret seadanya, maklumin aja ya fotonya pada bladus gitu *alesan 😀

Soal dive centernya, walaupun equipmentnya terbatas, ternyata kapal dan service-nya ga kalah sama dive center gede loh. Kapalnya cukup gede dan ada tempat tabungnya, trus alat-alatnya juga udah disetup sama awak kapal, tinggal ngecek. Untuk 2 kali diving kena 750K. Waktu itu ga persiapan bawa duit diving, tapi untungnya kalau sama Dr. Yudi bisa bayar transfer via SMS atau m-Banking (ngingetin aja di pulau ini ga ada ATM ataupun jaringan yang reliable buat e-banking). Kalau dive center yang satunya lagi cuma bisa tunai.

Puncak Tomia

Selesai diving, kami bersama 4 orang kenalan sewa mobil buat liat sunset di puncak Tomia. Sewanya 300K semobil sama supir, karena kami ga ada yang tau arahnya. Ternyata tempatnya ga terlalu jauh, jalannya masih searah dengan jalur Waha-Usuku, cuma di dekat kantor kas atau apa gitu namanya (silakan yang inget tolong benerin :p) kita tinggal belok ke daerah atas sampai nemu padang rumput ini. Tempatnya bagus buat pacaran 😀

Puncak Tomia

Sunset view di Puncak Tomia

Hari 6: Tomia – Bau-Bau

Inti dari hari ini adalah perjalanan laut dari Tomia ke Bau-Bau dari pagi sampai malam. Pagi-pagi setelah sarapan kami pamit dari penginapan buat pergi ke pelabuhan Usuku, dianter lagi sama Pak Ade dan ojek, per orang 35K. Kapal dari Tomia ke Bau-Bau ini lebih kecil dari kapal Bau-Bau – Wanci, tapi sama juga tiap penumpang dikasih tempat di matras. Asalnya saya mau di tempat biasa aja, tapi ternyata suami udah minta sewa kamar ke ABK. Ternyata kalau di kapal ini ga ada kamar ABK, tapi ada kamar di belakang ruang kemudi yang lebih lega buat tiduran dan selonjoran. Dia minta tarifnya 150K per orang (kalau tiket biasa 120K). Kami ambil aja lah lumayan. Sekitar jam 10 pagi kapalnya berangkat. Bye bye Wakatobi 😥

Ruang kemudi kapal Tomia - Bau-Bau

Ruang kemudi kapal Tomia – Bau-Bau

Perjalanan ke Bau-Bau ini memakan waktu sekitar 10 jam. Ini perjalanan laut saya yang paling lama, tapi anehnya juga yang paling nyaman! Sepanjang hari cuaca cerah dan laut tenang. Oiya sepanjang trip Wakatobi ini saya ga sekali pun minum antimo loh… haha *bangga *apasih. Kapal ini juga cukup bersih, karena selama 10 jam itu saya ga nemu satu pun kecoa, kontras dengan pengalaman waktu berangkat :p Tapi tetep mesti hati-hati sama barang bawaan. Menjelang berlabuh, tiba-tiba di kapal heboh… ada maling ketangkep, orangnya masih ABG, dan di tasnya banyak HP hasil colongan dari orang-orang di kapal. Pantesan saya sempet liat anak ini bolak-balik terus dan celingak-celinguk mencurigakan.

Ahirnya sekitar jam 8 malam kapal kami sampai di Pelabuhan Murhum, Bau-Bau. Dari sini kami jalan kaki aja ke arah patung kepala naga buat cari-cari penginapan.

Wisma Mulia

Awalnya kami tanya kamar kosong di Hotel Neo Calista, tapi pada penuh, dan mereka rekomen Wisma Mulia yang letaknya ga jauh dari situ (masuk jalan sebelah Neo Calista/dekat penginapan Marannu, terus belok kanan ke jalan kecil). Di sini harganya murah-murah, dari 100K sampai 250K tergantung fasilitas dan letak kamar. Kami pilih yang 250K aja, kamar double + AC + kamar mandi dalam di lantai paling bawah.

Pasar Malam Pantai Kamali

Berbeda dengan waktu siang, ternyata waktu malam daerah patung naga atau Pantai Kamali rame sama pasar malam. Di sini banyak yang jual gorengan dan minuman tradisional seperti Saraba (menurut saya rasanya cukup enak mirip STMJ). Ada juga yang buka lapak DVD, kosmetik, casing HP, dsb.

Suasana Patung Naga malam hari

Suasana Patung Naga malam hari

Waktu malam juga lebih banyak tempat makan yang buka. Tapi tetep aja kami makan di tempat yang kemarin, yaitu rumah makan Family… saking doyannya saya sama ayam bakarnya. Dan saya jadi mempertanyakan kenapa di daerah saya ayam bakar itu defaultnya dibalur kecap ya *renungan penting.

Hari 7: Bau-Bau – Makassar

Pagi-pagi berangkat dari penginapan ke bandara naik taksi yang udah dipesenin, biayanya 37K. Perjalanan udara dari Bau-Bau ke Makassar pake Merpati, yang saat postingan ini ditulis sudah tidak beroperasi. Huhuhu… Oh iya Bandara Betoambari ini termasuk kecil, airport taxnya 14K saja dan boarding pass-nya ditulis tangan 😀

Kami sampai di Makassar siang-siang, dan seperti saat berangkat dari Jakarta, kembali kami naik Damri dan menginap di Wisma City Inn. Kali ini nginapnya udah dapet harga yang bener 250K. Hehe…

Karebosi

Sorenya kami jalan dikit ke lapangan Karebosi dan Karebosi Link. Karebosi Link ini kayak ITC + BEC gitu lah kalo di Bandung, ada kios baju-baju dan ada kios elektronik juga.

Lapangan Karebosi

Lapangan Karebosi

RM Lae-Lae

Malamnya saudara yang di Makassar ngajak jalan lagi. Kali ini kami ditraktir makan di RM Ikan Segar Lae-Lae. Iyes, ikan segar. Padahal kami berdua sama-sama ga makan ikan :)) Bagi saya ini cukup menantang *lebay* karena selama beberapa bulan sebelumnya saya sudah melatih diri untuk bisa makan seafood. Ternyata setelah coba, udang bakar di sini enak dan ga amis, plus sambelnya seger. Yang sama sekali ga makan seafood seperti si suami pun ga masalah karena ternyata bisa pesan ayam bakar, walaupun ayamnya ngambil dari warung sebelah :))

RM Ikan Segar Lae-Lae

RM Ikan Segar Lae-Lae

Hari 8: Fort Rotterdam

Rencana hari terakhir trip ini, lagi-lagi awalnya saya pengen snorkeling di Samalona, sampai kemarinnya sempet tanya-tanya saudara segala. Tapi si suami lagi agak males. Dipikir-pikir yah repot juga sih kalau bawa gembolan baju basah ke pesawat, jadi mungkin lain kali aja sekalian kalau mau ke Tanjung Bira atau Selayar *amiin…

Jadinya hari ini kami jalan aja ke Fort Rotterdam yang jaraknya sekitar 800m dari Wisma City Inn. Masuk ke sana mesti isi buku tamu dulu, dan diminta sumbangan seikhlasnya. Ya udah saya kasih 20K buat kami berdua. Sama yang jaganya duitnya diambil aja gitu trus masuk lacinya. Hmm mungkin sebaiknya pake catetan atau kotak sumbangan gitu, supaya pengunjung ga negatif thinking… Heuheu.

Fort Rotterdam ini bangunannya cukup terawat dan asri. Untuk sejarahnya silakan googling aja ya :)) Di dalamnya ada museum La Galigo yang isinya tentang sejarah Makassar.

Di depan kompleks Fort Rotterdam

Di depan kompleks Fort Rotterdam

Fort Rotterdam

Fort Rotterdam, lagi ada panggung atau apa gitu

Sorenya kami udah harus ke bandara. Di perjalanan sebelumnya kami pilih pake taksi ke bandara biar bisa lewat tol, tapi kali ini kami naik Damri aja dari terminal depan Gedung Kesenian (300m dari Wisma City Inn) berhubung masih banyak waktu. Setelah nunggu sekitar 15 menit di halte, busnya datang dan kami bayar karcis per orang 25K. Ternyata bus ini juga langsung capcus ke bandara lewat tol, jadi sama cepatnya dengan taksi! Hehe… Btw kami waktu itu naik pesawat AirAsia Makassar-Jakarta, yang saat postingan ini ditulis, sama juga rutenya sudah tidak beroperasi. Heu…

Begitulah perjalanan pertama kami ke Wakatobi, sedikit Makassar dan Bau-Bau. Dibilang perjalanan pertama bukan karena udah berkali-kali ke sana sih, tapi emang saya pengen ada yang ke-2 😀 Lain kali mungkin agak susah cari penerbangan murah, berhubung semua penerbangan yang ada di postingan ini udah ilang semua. Heuheu… tapi semoga aja bisa ya…