Month: January 2014

Perjalanan Pertama ke Wakatobi (Bag 3)

Waduh, lama juga ternyata updatenya berhubung kemaren sempet sibuk sama trip yang laen. Gpp deh ditulis mumpung masih inget. Hehe…

Hari 3: Wangi-Wangi – Tomia

Setelah semalaman di laut, akhirnya pagi-pagi kapal kami mulai mendekat ke Wakatobi. Awak kapal keliling menyuguhkan kopi dan teh hangat buat penumpangnya (budget airlines kalah… hehe), dan ada juga yang meriksa tiket penumpang. Kami bayar sewa kamar ABK 100K (per kamar). Ga berapa lama kemudian kapal kami merapat di pelabuhan Wanci, Wangi-Wangi. Perairan sekitar pelabuhan ini masih cukup alami dan jernih, bahkan dari jauh bisa keliatan bintang laut di bawah air.

Rencana pagi ini kami mau langsung aja ke Tomia. Pilihannya ada naik speedboat dari pelabuhan Jabal, atau kapal kayu dari pelabuhan Mola. Kami pilih speedboat aja, karena bayangannya sih speedboat bakal cepat (ternyata ga juga). Dari pelabuhan Wanci, kami naik ojek ke pelabuhan Jabal. Tarifnya seorang 20K. Katanya sih biasanya cuma 10K, tapi gpp lah berhubung tadi ojeknya sempet nungguin kami beli makan pagi di jalan dan bantu cariin toilet ke rumah penduduk (FYI selesaikan segala urusan di kapal karena di pelabuhan ga ada toilet! :p).

Pelabuhan Jabal

Di sini cuma ada 1 dermaga kecil dan 1 kapal aja tiap harinya. Letaknya di tengah perkampungan suku Bajo. Waktu kami sampai di sana (sekitar jam 6.30 pagi) kapalnya udah penuh sama penduduk lokal tapi belum juga berangkat. Ternyata berangkatnya nunggu air pasang. Kami cuma kebagian duduk di kursi belakang dekat mesin speedboat. Sementara itu, makin banyak penumpang yang datang… dan tetap dipaksain masuk. Ada yang diempet-empetin di tengah, ada yang menyingkir ke atap, bahkan ada yang berdiri sepanjang perjalanan. Padahal lumayan loh perjalanannya bakal ada sekitar 3 jam.

Dermaga Jabal

Dermaga Jabal

Menunggu air pasang

Menunggu air pasang

Sekitar jam 9 airnya pasang, dan berangkatlah kami. Mungkin karena kelebihan muatan, kapalnya lambat bener… Malah kapal kayu kemaren masih lebih cepat! :)) Weleh, tau gini pake kapal yang di Mola aja. Btw, bayar tiket kapal ini 140K, ditagih sama awak kapal di tengah jalan waktu mau sampai di Tomia.

Pelabuhan Usuku

Setelah perjalanan 3 jam yang rasanya lebih lama dari perjalanan 8 jam sebelumnya, sampailah kami di Pelabuhan Usuku, Tomia. Karena selama di kapal ga dapat atap, belum snorkeling pun kulit udah gosong duluan! Haha… Di pelabuhan ini kami udah janjian sama CP kami di Tomia, yaitu Pak Ade. Lewat beliau, kami booking penginapan Abi Jaya yang letaknya di daerah Waha, cukup jauh dari Usuku. Kami diantar ke penginapan pake motor, per orang 35K.

Penginapan Abi Jaya

Penginapan ini dapat banyak review positif dari para blogger. Dan sepengalaman kami pun memang recommended. Sewa kamar AC + kamar mandi dalam per malam 250K. Kamarnya luas dan bersih, perabotannya bagus, ada TV kabel segala. Kayaknya ini termewah yang bisa kami dapat di Tomia. Hehe…

Kamar di Abi Jaya, ada sedikit penampakan di poto :))

Kamar di Abi Jaya, ada sedikit penampakan di poto :))

Penginapan ini bisa menyediakan makan 3x sehari, tergantung request. Pilihan makan di luaran sana ga banyak… cuma ada nasgor, bakso, dan makanan Jawa. Kami sih selalu makan di penginapan. Selain karena enak, bisa request jenis makanannya, juga bisa coba makanan lokal seperti kasuami. Kalau mau melaut seharian juga bisa minta dibekelin. Makan selama 4 hari di sana menghabiskan 350K buat kami berdua.

Pantai Soha

Sorenya kami mau jalan-jalan dikit, jadi sewa motor lewat penginapan. Karena udah sore, dikasih tarif diskonan jadi 30K. Kami mau cari pantai bagus yang cukup dekat dari situ. Kata bapak pemilik penginapan, ada yang namanya Pantai Soha. Keliling tempat wisata di Tomia secara mandiri untuk pertama kali emang agak susah. Belum ada papan penunjuk jalan dan tempatnya ga ada di Waze/Google Maps :p Jadi ya rajin-rajin tanya arah ke penduduk sekitar aja. Setelah sempat tanya sana-sini, akhirnya sampai juga di Pantai Soha.

Pantai Soha

Pantai Soha

Pantainya cukup bagus… pasir putih halusss kayak bedak bayi (pantai Indonesia Timur standarnya kayak gini kayaknya ya :D). Sayangnya di daerah pepohonan belakang pantai banyak sampah ditumpuk.

Setelah puas leyeh-leyeh di Pantai Soha, kami cari minuman atau es krim buat melegakan tenggorokan di hari yang cukup panas ini. Agak susah juga cari es krim, tapi akhirnya nemu di kios dekat pelabuhan Usuku. Cukup kaget pas bayar 2 bungkus Magnum Mini totalnya 30 ribu! Haha… Biasanya segitu hampir dapat 1 kotak isi 5 xD Tapi dipikir-pikir ongkos bawa es krim dari kota ke pulau kecil ini pasti mahal sih.

Hari 4: Snorkeling di Sekitar Tomia dan Pulau Sawa

Kami sewa kapal kecil ke Pak Ade, per kapalnya 500K buat snorkeling sekitar Tomia sampai sore (muat sekitar 5 orang, tapi cuma kami pake berdua). Pak Ade-nya jadi guide kami juga, dan beliau memang sudah hapal lokasi-lokasi yang bagus buat snorkeling.

Pak Ade di depan kapal

Pak Ade di depan kapal

Kami snorkeling di beberapa spot seperti Rome, Pulau Sawa, Dunia Baru, dan lainnya saya lupa. Hehe… Bawah laut di sekitar Tomia ini mengingatkan saya sama bawah lautnya Pulau Menjangan di Bali, tapi di sini karangnya rapat-rapat banget dan ikannya lebih banyak aja gitu 🙂

Tomia Underwater

Tomia Underwater

Snorkeling di sekitar wall

Snorkeling di sekitar wall

Sempet ketemu penyu, dan ada juga crocodile needlefish yang biasa diliat di Menjangan, tapi yang di sini ukurannya jumbo! Sama suami ikannya sempet dikira barracuda, soalnya gemuk-gemuk gitu. Orang bilang kalau diving di sini banyak giant sea fan, tapi sebenernya snorkeling pun bisa nemu kok, ga dalem cuma 5 meteran.

Di balik Giant Seafan

Di balik Giant Sea Fan

Oiya di beberapa spot yang ada wall-nya lumayan ada arus. Tapi ga masalah, soalnya kapalnya bakal ngikutin kita dari jauh. Jadi kita tinggal snorkeling ngikutin arus dan panggil kapalnya kalau udah mau ganti spot.

Selain snorkeling, kami sempat istirahat makan siang di Pulau Sawa. Akses kapal ke pulau ini gampang-gampang susah. Letaknya cukup dekat dari Tomia, tapi supaya bisa bersandar di pinggir pulau, kapalnya harus melewati perairan dangkal sejauh berapa ratus meter yang ada karang-karangnya. Mesti hati-hati jangan sampai kepentok. Kata Pak Ade, di pulau ini asalnya ada resort, tapi sekarang udah ditinggal aja. Penyebabnya ya gara-gara kapal susah ke situ. Sayang juga ya…

Tapi meski begitu, yang keren dari Pulau Sawa ini di dekat pulaunya ada hamparan pasir luas. Kalau mau main-main di pasir ini usahakan datang sebelum siang, soalnya setelah kami selesai makan siang, ternyata air sudah pasang dan hamparan pasirnya berganti jadi kolam renang raksasa.

Hamparan pasir dekat Pulau Sawa

Hamparan pasir dekat Pulau Sawa

Btw katanya pulau paling bagus sekitar sini namanya Pulau Ndaa, tapi kami ga ke sana soalnya cukup jauh dan kapal kami ga sanggup kayaknya. Hehe… Next time lah…

Soal snorkeling, meski harganya jatuhnya agak mahal buat kami berdua, tapi nampol banget… snorkelingnya sekitar 4 atau 5 spot dari pagi sampai sore. Itu juga asalnya sama Pak Ade masih mau dianter ke spot yang lain, tapi kami bilang simpan buat besoknya aja (ternyata besoknya ga snorkeling malah diving… bersambung ke Bag 4).

Advertisements