Males Ngeblog

Tiap pulang liburan, pasti ditanyain sama si doi, “Kapan nulis di blog?” Hah, mana sempet! Kabarnya para seleb blog aja sekarang pada pindah ke Instagram *emang duitnya lebih banyak di sana sih, endorsement di mana-mana :))

Sebenernya kalau ditanya kenapa sekarang males ngeblog… well, kembali ke tujuan awal sih. Niat ngeblog ya sekadar bagi-bagi info aja, sesuai dengan tagline-nya: Ditulis biar ga lupa ūüėõ Karena kalau habis pergi-pergi pasti pulangnya ada yang nanya, nginep di mana? Pake apa perginya? Kamu di mana? Semalam berbuat apa? Dsb dsb… Maklum, jaman dulu (ga dulu-dulu amat sih haha) jarang banget ada open trip murmer asik kayak sekarang. Saya sering denger kalau orang Indonesia lebih senang melancong ke negara tetangga yang lebih murah dan gampang ke sananya, daripada ke tempat-tempat di Indonesia yang sebenernya jauh lebih indah, tapi ke sananya ribet! Makanya saya ngeblog dengan harapan teman-teman yang mau mengeksplor Indonesia jadi lebih terbantu. Mulia sekali bukan? (jangan jawab “bukan”)

Eh ternyata sekarang harapan saya sudah diwujudkan oleh banyak agen open trip! Haha… Iyes, open trip is a godsend *lebay. Bayangin aja destinasi-destinasi yang dulu tampak jauh dan berliku perjalanannya seperti Togean atau Kepulauan Kei sekarang udah ada yang bikin open tripnya. Dengan open trip, ga perlu ribet cari teman buat sharing cost… apalagi wisata Indonesia yang banyak eksplor pulau-pulau kan memang salah satu biaya terbesarnya di sewa kapal. Pernah ngobrol dengan seorang teman yang arrange open trip tentang biaya sewa kapal dsb, saya jadi mikir sebenernya ini dia ngambil untung ga sih? Menurut saya harga open trip yang ada sekarang tuh is a bargain banget (geli ga bahasa campur-campur gini? xD)

Eh kok jadi kayak promosiin open trip gini ya. Intinya, karena sekarang mau ke mana-mana udah gampang, saya jadi berkurang juga motivasinya untuk bagi-bagi informasi. Wong tinggal saya kasih tau pake agen yang mana :)) Nanti kalau saya sempet ngeblog lagi sih paling saya tulis pengalaman-pengalaman berkesan selama traveling, yang kalau dipikir-pikir, hampir ga pernah saya tulis di sini. Dan karena dulu fokus blognya di bagi-bagi informasi, tulisannya jadi kurang personal juga, padahal saya punya banyak opini-opini ga penting yang pengen saya tulis.

Oiya sekarang saya udah bikin akun Instagram juga buat naro foto-foto liburan (@anggiaferdina). Akunnya sih cuma buat pamer foto, kepoin teman, dan cari info open trip. Tapi jangan ajak ngobrol saya soal selebgram karena ga ngikutin… boro-boro, artis pemain film Indonesia aja saya ga tau apalagi artis medsos. Seriously, sekarang kalau ngobrol sama cewe-cewe pasti ada aja ngomong tentang selebgram deh… Dan saya cuma bisa cengo. Ckckck…

Untuk ukuran orang yang males ngeblog, cukup panjang juga ya tulisannya. Ternyata ngeblog itu cepet ya kalau ga pake foto, bisa disambi sambil nungguin build :)) Nanti aja lah kalau ingat dan niat saya kasih foto pemanis buat postingan ini.

 

Advertisements

Menyibak Pesona Misool (Bag 1)

Udah lama nih ga jalan-jalan ala si bolang karena “sibuk” hamil dan ngurus anak. Daripada blognya lumutan, saya share salah satu trip yang udah lama tapi belum sempat ditulis aja ya. Pengalaman kedua kalinya ke Raja Ampat kira-kira akhir 2014, kami eksplor bagian selatannya yaitu daerah Misool. Meskipun udah sekira 2 taun yang lalu, daerah selatan ini masih alami dan belum booming kalau dibandingin daerah utara. Mungkin alasan kenapa masih jarang turis ke sana karena daerahnya juga masih belum begitu developed. Jalan-jalan di sana benar-benar cocok buat yang suka wisata alam, tiap hari full trekking dan nyebur.

Kami ke sana bareng EO yang sama dengan waktu pertama ke Raja Ampat (@wisatarajaampat). Mereka biasa bikin open trip 3x setaun, mudah-mudahan sih tetep ga dibikin terlalu sering ya. Hehe… Oiya,¬†menurut saya kalau ada yang pengen ke Raja Ampat tapi ga suka diving, Misool lebih cocok daripada Raja Ampat utara karena pemandangan atas lautnya lebih bagus dan banyak daerah untuk trekking. Malahan di rombongan kami waktu itu ada satu orang anak gunung yang “waterproof” alias segan untuk nyebur, tapi tetap enjoy aja tuh selama perjalanan.

Ngomongin keindahan Misool, kayaknya spot random mana pun di sana keren-keren. Jujur trip ke Misool ini cukup merusak standar saya akan pantai bagus. Heuheu… Yang lebih parah sih si suami, sekarang dia¬†sombong diajak ke pantai yang baru dan jauh, pasti dia banding-bandingin sama yang di sana. Bukan sepenuhnya salah dia juga sih kalau pemandangan¬†standar di sana tuh kayak gini.

Pantai dengan pasir putih

Pantai dengan pasir putih

Define: crystal clear

Yang bening-bening

Spot random leyeh-leyeh

Spot random leyeh-leyeh

Berikut tempat-tempat yang sempat kami kunjungi selama trip ke Misool.

Kampung Harapan Jaya

Kampung ini adalah basecamp kami selama trip di Misool. Di sini sebenarnya ada sebuah homestay, tapi homestaynya penuh dan kami menginap di rumah guide kami sepanjang trip. Di rumah ini dan sekitarnya selalu rame dengan anak-anak. Lucunya anak-anak di sini benar-benar curious sama turis. Kalau kita lagi nongkrong dan foto-foto, mereka ga malu ngedeketin pengen liat dan pengen difoto juga. Pernah suatu malam sambil gelap-gelapan kami pergi ke dermaga buat foto bintang, tau-tau di belakang entah dari mana ada anak-anak yang ngikutin juga gelap-gelapan pengen ikut nongkrong :))

Dermaga Kampung Harapan Jaya

Sore-sore di dermaga Kampung Harapan Jaya

img_6264-2

Sky full of stars

Di kampung ini kami juga sempat menyaksikan permainan¬†Bambu Gila,¬†kesenian lokal yang berbau mistis. Cara mainnya ada satu bambu besar yang dipegang oleh beberapa orang. Lalu bambu ini “diberi mantra” sehingga jadi berat dan bergerak liar. Ga cuma nonton, rombongan kami yang laki-laki ikutan main juga, termasuk si suami. Seru banget, bisa sampai terpelanting gitu dia :)) *oops kok ketawa ya haha. Karena penasaran, saya tanya si suami, emang bener bambunya jadi berat? Kata dia sih, beratnya karena para pemain geraknya ga terkoordinasi aja, ada yang narik ada yang maju, jadi berat! Hehe… Yang pasti sih, selama permainan ini suasana ramai banget… ga cuma turis seperti kami, penduduk lokal juga terhibur.

Bambu Gila

Mulai kepayahan nahan Bambu Gila

Balbulol dan Dafalen

Beberapa spot snorkeling yang kami sambangi adalah Balbulol dan Dafalen. Di sini ga cuma dapat pemandangan bawah laut, atas lautnya pun oke banget. Ciri khas dua daerah ini banyak karst berbentuk cone, jadi berasa rada sureal berenang-renang dengan pemandangan seperti itu.

Balbulol

Balbulol

Underwater daerah Balbulol

Underwater daerah Balbulol

Suami ngambang di Dafalen

Suami hanyut di Dafalen

Sebenarnya kami sempat dibilangin sama teman, snorkeling di Misool ini underwaternya ga sebagus di Raja Ampat utara macam Sauwandarek gitu, tapi tetap bagus kok. Sempat liat schooling bumphead parrotfish di perairan yang agak dalam.

Danau Ubur-ubur Lenmakana

Di¬†Indonesia ada beberapa danau dengan ubur-ubur tidak menyengat, seperti di Derawan, Togean, dan¬†di Misool juga ada, salah satunya di daerah Lenmakana. Pernah baca postingan Mbak Trinity tentang Misool yang katanya di balik bukit ada danau ubur-ubur, tapi ke sananya mesti “setengah mati”? Jangan-jangan¬†inilah tempatnya :))

Untuk mencapai danau ini, kita harus trekking dulu dengan medan yang cukup menantang. Kalau dibandingin sama trekking ke puncak Wayag sih, jelas yang Wayag kalah. Hehe… Di sini sampai harus “pinjam” paha ABK sebagai pijakan karena kadang jarak antar karangnya itu jauh. Sempat dengar dari salah seorang anggota rombongan juga, di trip sebelumnya sampai ada yang pingsan di sini, jadi pastikan aja badan fit. Tapi meski rada repot, saya harap sih aksesnya dibiarkan seperti itu aja. Selain untuk menjaga danaunya, ini juga¬†menjaga bodi tetap singset selama liburan *halah ūüėõ

Seperti halnya di danau ubur-ubur lain,¬†di sini ga boleh pake fin, karena kibasan yang terlalu kuat bisa mencederai ubur-uburnya. Jangan memencet-mencet ubur-ubur juga meski gemesss heuheu…

I feel freeee…

Gua Puteri Termenung

Ada yang bilang namanya Gua Puteri Termenung,¬†ada juga yang bilang namanya Gua Wanita Murung. Intinya di dalam gua ini ada stalakmit dan stalaktit, yang salah satu bentukannya menyerupai perempuan berambut panjang yang sedang menunduk. Waktu teman-teman sudah pada ngeh “Oh itu puterinya… ” saya masih¬†menebak-nebak yang mana dia… maklum imajinasi berkurang semenjak masuk jurusan teknik *haha alesan. Masuk ke gua ini mesti sedikit trekking manjat-manjat dulu.

Gua Puteri Termenung

Sekitar Gua Puteri Termenung

Di luar gua ada pantai yang jernih dan tenang. Saya dan suami berenang leyeh-leyeh aja di situ sambil menikmati suasana.

Masih ada spot¬†dan kegiatan¬†lain di Misool yang ga kalah seru… bersambung ke Bag 2.

Perjalanan Darat dari Singapore ke Phuket (Bag 3 – Tamat)

Hari 7-8: Phuket

Ngebahas Phuket sebenarnya agak antiklimaks karena kegiatan-kegiatan asiknya udah dilakukan di Krabi. Tapi ada yang bikin saya penasaran sama Phuket, yaitu kabaret ladyboy *teteup :))

Kami pergi dari Krabi pagi hari pakai minivan lagi, pesan dari hotel semalam sebelumnya. Di jalan, penumpang sempat dibawa mampir ke kantor agen tur, tapi kami sih ga beli paket apa-apa. Di sekitar penginapan di Patong nanti juga gampang cari agen tur. Banyak kegiatan yang ditawarkan, seperti Phi Phi island tour, elephant tour, kayaking di Phang Nga, dsb. Berhubung kami sudah snorkeling, kayaking, dan island hopping di Krabi, di Phuket mau santai aja keliling pake motor.

Suasana di penginapan Saibaidee Patong

Suasana di penginapan Saibaidee Patong, depannya agen tur semua ūüėÄ

Setelah siangnya sampai di Phuket dan check in penginapan, kami sewa motor di sebelah hotel (di Patong juga ga akan susah juga cari penyewaan). Untuk sewa motor, biayanya sendiri cukup murah, kalau dirupiahin sekitar 50K-100K, tapi kita bakal diminta titip paspor atau deposit sejumlah uang yang cukup banyak (waktu itu 2000 THB) yang nanti dikembalikan lagi kalau kita udah balikin motornya. Tentu kami pilih deposit uang aja. Kalau hilang paspor di negeri orang bisa berabe. Kalau hilang duit¬†seapes-apesnya¬†ya hilang duit aja heuheu… Jadi¬†kalau mau sewa motor pastikan aja bawa duit agak lebihan.

Satu hal lagi yang saya baca-baca soal sewa motor di Phuket, katanya kadang ada tukang sewa yang nipu dengan cara ngambil¬†motornya malam-malam waktu si penyewa ninggalin motor di parkiran hotel, terus besoknya dia minta ganti rugi untuk motornya yang “hilang” itu. Jadi supaya lebih aman malamnya kami kembaliin motor ke tempat sewa dan bilang besok kami ambil lagi (motor masih bisa dipakai sampai besok siangnya karena sewa per 24 jam). Bukannya berburuk sangka, tapi memang lebih baik waktu tidur motor dititipkan ke yang punyanya aja supaya lebih aman.

Patong Beach

Sorenya kami keliling sekitar pantai Patong, Bangla Road, dsb. Selain gedung arena kickboxing yang cukup unik, ga ada yang terlalu spesial sih. Ya mirip-mirip lah hecticnya sama Kuta dan Legian ūüėõ

Duduk depan Patong Beach

Duduk depan Patong Beach

Simon Cabaret

Ada beberapa kabaret ladyboy di Phuket, dan tampaknya yang paling terkenal itu Simon Cabaret. Kami beli tiketnya di agen dekat penginapan, dapat kursi VIP. Malamnya kami dijemput dari¬†penginapan untuk pergi ke tempat kabaret, sambil menjemput beberapa tamu lain yang tinggal di sekitar situ. Waktu liat tamu-tamu lain yang semuanya perempuan ini… buset dah pada pake gaun dan baju pesta semua, full make up pula. Pas nyampe gedung kabaretnya, ternyata kebanyakan perempuan memang pake baju pesta, sisanya pake summer dress lucu-lucu gitu. Jadi berasa saltum karena jarang¬†yang pake jins belel, kaos oblong, dan jaket kayak saya. Buat ketemu ladyboy doang loh xD

Turis foto di depan gedung Simon Cabaret

Turis foto di depan gedung Simon Cabaret

Akhirnya mulailah acaranya, dan ternyata kami dapat jajaran kursi paling depan. Berbagai tarian ditampilkan dari yang seksi, lucu, atau anggun. Yang saya suka tariannya yang klasik Cina, ladyboy yang main di sini juga asli cantik :)) Kalau yang ala-ala Broadway ga gitu suka. Karena duduk di depan, memang cukup jelas jadinya mana yang cantik dan mana yang agak seram.

Satu hal yang tampaknya cukup menyeramkan bagi cowok-cowok, para ladyboy ini kadang ada yang turun ke deretan kursi penonton bagian depan untuk¬†memeluk atau mencium pria yang beruntung. Karena kami duduk di paling depan, tiap ada adegan gini saya ikut deg-degan takut suami diapa-apain. Hahaha… Untungnya di dekat kami ada cowok muda ganteng yang tampaknya benar-benar menarik perhatian para ladyboy, sampai-sampai dia dua kali dicium ladyboy yang berbeda. Jadi amanlah si suami ūüėõ

Karon dan Kata Beach

Besok paginya kami pergi ke Wat Chalong dengan motoran. Karena di penginapan ada wifi, kami bisa load map di HP dulu buat penunjuk jalan. Kebetulan jalannya melewati beberapa spot turis seperti pantai Karon dan Kata. Di sekitar sini kami liat-liat dan jajan aja sih ga sampai nyebur. Selain lautnya lagi serem (ombaknya sampai hampir tumpah ke jalan raya) memang ga bawa baju basah-basahan juga.

Lupa Karon apa Kata Beach

Lupa Karon apa Kata Beach

Wat Chalong dan Big Buddha

Pergi ke Wat Chalong cukup gampang karena ada papan penunjuk jalan. Ini adalah kompleks kuil yang cukup ramai dikunjungi turis dan juga orang-orang yang mau beribadah. Seperti biasa kalau ke kuil¬†tentu pakai pakaian yang sopan ya (menutup bahu dan lutut). Tapi kalau khilaf pakai baju minim juga nanti dipinjemin sarung sih. Hehe…

Salah satu kuil di Wat Chalong

Salah satu kuil di Wat Chalong

Di dalam salah satu kuil

Di dalam salah satu kuil

Setelah Wat Chalong, kami ke¬†tempat turis lain yaitu Big Buddha. Waktu itu tempat ini masih baru, kami juga taunya dari kenalan di penginapan. Dari Wat Chalong ke sini ternyata cukup gampang juga karena waktu itu sudah ada spanduk penunjuk jalan. Menuju tempat ini, kami sempat melihat kawasan hutan yang tampaknya dipakai untuk elephant dan ATV tour. Kalau ada waktu lebih lama kayaknya lumayan juga ikutan tour-tour itu. Di Big Buddha sendiri ada patung Buddha yang besar (cukup menjelaskan yah haha…) dan daerah wisatanya masih dalam tahap pengerjaan.

Patung Big Buddha, masih dalam pengerjaan

Patung Big Buddha, masih dalam pengerjaan

Phuket Airport

Setelah keliling berapa tempat di Phuket, kami sempat ke Jungceylon Mall untuk menunggu waktu pulang. Akhirnya waktu kami sudah hampir habis, dan kami pun segera ke bandara pakai transport dari penginapan. Di bandara, ternyata ada sedikit masalah di bagian imigrasi. Jadi ceritanya, waktu paspor diperiksa petugas, saya dan suami disuruh ke petugas lain untuk ditanya-tanya.¬†Entah kenapa saya ga begitu kaget, soalnya waktu masuk ke Thailand, orang Indonesia memang agak-agak “dibedakan” dengan pemeriksaan ekstra. Saya pikir mungkin memang lagi ada orang Indonesia yang masuk daftar pencarian atau apa. Heu…

Sayangnya, para petugas bahasa Inggrisnya ga jelas, jadi kami bingung jawab dan mereka sibuk sendiri. Akhirnya kami inisiatif nerangin aja kalau kami dari Indonesia pakai pesawat ke Singapore, terus pergi lewat darat sampai Thailand, sambil kami tunjukin juga cap-cap imigrasinya.

Si petugas akhirnya agak-agak dapat pencerahan, “Oh, Songkhla? Songkhla?” Kami asalnya bingung tapi kemudian sadar kalau itu nama imigrasi masuk kami ke Thailand. Akhirnya si petugas ngecek lagi di komputernya dan dapatlah record kami di sana. Jadi setelah sesi wawancara yang cukup lama dan membingungkan tadi, kami duga para petugas ini coba cari cap imigrasi masuk Phuket tapi ga nemu. Terus baru nyadar ada cap imigrasi masuk daerah Thailand yang lain setelah kami tunjukin. Udah gitu doang :))

Akhir kata, dari tempat-tempat yang kami kunjungi di trip ini, yang mungkin kami kunjungi untuk tujuan wisata lagi sih… Krabi ya ūüėÄ Di trip ini ada wisata kota dan alam, dan jujur sebenarnya kami ga begitu doyan wisata kota, tapi kali ini mau coba yang sedikit di luar kebiasaan. Ternyata, bagi saya wisata kota itu lumayan kalau pakai pindah-pindah jalan darat gini dan minimal ada waktu 2 hari melakukan kegiatan di¬†alam. Tapi lain hal dengan suami, dia sok-sok kalem sampai akhirnya pas kami kayaking di Krabi, dia nyaut, “Nah, liburan tuh harusnya kayak gini… bukan keliling-keliling doang kayak kemarin!” Haha…